"Selamat Datang Di Blognya Gus Mied Baidlowi"

Potret Sekilas Sayidi Abdul Qodir Al-Jaelani ra.

Kelahiran
Sayidi Abdul Qadir Jailani adalah seorang ulama terkenal. Beliau bukan hanya terkenal di sekitar tempat tinggalnya, Baghdad, Irak. Tetapi hampir seluruh umat Islam di seluruh dunia mengenalnya. Hal itu dikarenakan kesalihan dan keilmuannya yang tinggi dalam bidang keislaman, terutama dalam bidang tasawuf.
Nama sebenarnya adalah Abdul Qadir. Ia juga dikenal dengan berbagai gelar seperti; Muhyiddin, al Ghauts al Adham, Sultan al Auliya, dan sebagainya. Sayidi Abdul Qadir Jailani adalah ahli bait keturunan Rasulullah SAW. Ibunya yang bernama Ummul Khair Fatimah, adalah keturunan Mawlana al-Imam Husain, cucu Nabi Muhammad Saw. Jadi, silsilah keluarga Syaikh Abdul Qadir Jailani jika diurutkan ke atas, maka akan sampai ke Khalifah Imam ‘Ali bin Abi Thalib.
Sayidi Abdul Qadir Jailani dilahirkan pada tahun 1077 M / 469 H. Pada saat melahirkannya, ibunya sudah berusia 60 tahun. Ia dilahirkan di sebuah tempat yang bernama Jailan. Karena itulah di belakang namanya terdapat julukan Jailani. Penduduk Arab dan sekitarnya memang terbiasa menambahkan nama mereka dengan nama tempat tinggalnya.

Sayidi Abdul Qadir dan Perampok

Setelah menginjak masa remaja, sayidi Abdul Qadir meminta izin pada sang ibu untuk pergi menuntut ilmu. Oleh sang ibu, ia dibekali sejumlah uang yang tidak sedikit, dengan disertai pesan agar ia tetap menjaga kejujurannya, jangan sekali-sekali berbohong pada siapapun. Maka, berangkatlah sayidi Abdul Qadir muda untuk memulai pencarian ilmunya.
Namun ketika perjalanannya hampir sampai di daerah Hamadan, tiba-tiba kafilah yang ditumpanginya diserbu oleh segerombolan perampok hingga kocar-kacir. Salah seorang perampok menghampiri sayidi Abdul Qadir, dan bertanya,
“Apa yang engkau punya?”


Sayidi Abdul Qadir pun menjawab dengan terus terang bahwa ia mempunyai sejumlah uang di dalam kantong bajunya. Perampok itu seakan-akan tidak percaya dengan kejujuran sayidi Abdul Qadir. Bagaimana mungkin ada orang mengaku memiliki uang kepada perampok. Kemudian perampok itupun melapor pada pimpinannya.
Sang pemimpin perampokpun segera menghampiri sayidi Abdul Qadir dan menggeledah bajunya. Ternyata benar, di balik bajunya itu memang ada sejumlah uang yang cukup banyak. Kepala perampok itu benar-benar dibuat seolah tidak percaya. Ia lalu berkata kepada sayidi Abdul Qadir,
“Kenapa kau tidak berbohong saja ketika ada kesempatan untuk itu?”
Maka sayidi Abdul Qadir pun menjawab, “Aku telah dipesani oleh ibundaku untuk selalu berkata jujur. Dan aku tak sedikitpun ingin mengecewakan beliau.”
Sejenak kepala rampok itu tertegun dengan jawaban sayidi Abdul Qadir, lalu berkata: “Sungguh engkau sangat berbakti pada ibumu, dan engkau pun bukan orang sembarangan.”
Kemudian kepala perampok itu menyerahkan kembali uang itu pada sayidi Abdul Qadir dan melepaskannya pergi. Sejak pertemuannya dengan kekasih Allah sayidi Abdul Qodir al-Jailani, tak lama kemudian sang perampok menjadi insyaf dan membubarkan gerombolan perampoknya.

Mengembara

Pencarian ilmunya berlanjut. Kemudian berangkatlah sayidi Abdul Qadir ke Baghdad. Baghdad adalah ibukota Irak. Saat itu Baghdad adalah sebuah kota yang paling ramai di dunia. Di Baghdad berkembang segala aktiitas manusia. Ada yang datang untuk berdagang, mencari pekerjaan bahkan menuntut ilmu. Baghdad merupakan tempat berkumpulnya para ulama besar pada saat itu.
Saat itu tahun 488 H. Usia sayidi Abdul Qadir baru 18 tahun. Pada saat itu, khalifah atau penguasa yang memimpin Baghdad adalah Khalifah Muqtadi bi-Amrillah dari dinasti Abbasiyyah.
Ketika Syaikh Abdul Qadir hampir memasuki kota Baghdad, ia dihentikan oleh Sayidna Khidir as. Sayidna Khidir adalah seorang wali Allah yang disebut dalam Al-Qur'an dan diyakini para ulama masih hidup hingga kini. Saat menemui syaikh Abdul Qadir, Nabi Khidir mencegahnya masuk ke kota Bagdad itu.
Nabi Khidir berkata, “Aku tidak mempunyai perintah (dari Allah) untuk mengijinkanmu masuk (ke Baghdad) sampai tujuh tahun ke depan.”

Tujuh Tahun Tinggal di Tepi Sungai

Tentu saja Sayidi Abdul Qadir bingung.mengapa ia tidak diperbolehkan masuk ke kota Baghdad selama tujuh tahun? Tetapi syaikh Abdul Qadir tahu, bahwa jika yang mengatakan itu adalah sayidina Khidir, tentu dia harus mengikuti perntahnya tersebut.
Oleh karena itu, syaikh Abdul Qadir pun kemudian menetap di tepi sungai Tigris selama tujuh tahun. Tentu sangat berat. Ia yang selama di rumah bisa hidup bersama orang tua dan saudara-saudaranya di rumah, sekarang harus hidup sendiri di tepi sungai. Tidak ada yang dapat dimakannya kecuali daun-daunan. Maka selama tujuh tahun itu ia memakan dedaunan dan sayuran yang bisa dimakan.
Pada suatu malam ia tertidur pulas, sampai akhirnya ia terbangun di tengah malam. Ketika itu ia mendengar suara yang jelas ditujukan kepadanya. Suara itu berkata, “Hai Abdul Qadir, masuklah ke Baghdad.”
Keesokan harinya, ia melanjutkan perjalanan ke Baghdad. Maka, ia pun masuk ke Baghdad. Di kota itu ia berjumpa dengan para Syaikh, tokoh-tokoh sufi, dan para ulama besar. Di antaranya adalah Syaikh Yusuf al Hamadani. Dari dialah syaikh Abdul Qadir mendapat ilmu tentang tasawuf. Syaikh al Hamadani sendiri telah menyaksikan bahwa syaikh Abdul Qadir adalah seorang yang istimewa, dan kelak akan menjadi seorang yang terkemuka di antara para wali.

Berguru Kepada Para Ulama Besar

Syaikh al-Hamdani berkata, “Wahai Abdul Qadir, sesungguhnya aku telah melihat bahwa kelak engkau akan duduk di tempat yang paling tinggi di Baghdad, dan pada saat itu engkau akan berkata, ˜Kakiku ada di atas pundak para wali.”
Selain berguru kepada Syaikh Hamdani, syaikh Abdul Qadir bertemu dengan Syaikh Hammad ad-Dabbas. Iapun berguru pula kepadanya. Dari Syaikh Hammad, syaikh Abdul Qadir mendapatkan ilmu tentang Tariqah yang akarnya adalah Syari’ah. Dalam tariqahnya, beliau mendekatkan diri kepada Allah dengan berdoa siang malam, berdzikir, bershalawat, berpuasa sunnah, bershadaqah, berzuhud dan berjihad (melawan nufus yang kotor), sebagaimana yang telah dicontohkan oleh baginda Rasulullah SAW.
Kemudian Syaikh Abdul Qadir berguru pada al Qadi Abu Said al Mukharimi. Di Babul Azaj, Syaikh al Mukharimi mempunyai madrasah kecil. Karena beliau telah tua, maka pengelolaan madrasah itu diserahkan kepada syekh Abdul Qadir. Dari situ syaikh Abdul Qadir berdakwah kepada masyarakat, baik yang muslim maupun non-muslim.
Dan dari Syaikh al Mukharimi itulah Syaikh Abdul Qadir menerima khirqah (jubah ke-sufi-an). Khirqoh itu secara turun-temurun telah berpindah tangan dari beberapa tokoh sufi yang agung. Di antaranya adalah Syaikh Junaid al-Baghdadi, Syaikh Siri as-Saqati, Syaikh Ma’ruf al Karkhi, dan sebagainya.

Menjadi Ulama Besar

Syaikh Abdul Qadir tidak hanya berguru kepada para ulama di atas. Dia juga memperdalam ilmunya kepada para ulama besar yang lain. Di antaranya adalah Ibnu Aqil, Abul Khatthat, Abul Husein Al Farra dan juga Abu Sa'ad Al Muharrimi. Seluruh guru-guru Syaikh Abdul Qadir tersebut adalah para ulama besar yang ilmunya sangat luas dalam bidang agama. Sebab itulah, tidak heran jika kemudian Syaikh Abdul Qadir menjadi ulama besar menggantikan para ulama tersebut.
Sebegaimana telah disebutkan, suatu ketika Abu Sa'ad Al Mukharrimi, guru Syaikh Abdul Qadir, membangun sekolah atau Madrasah yang bernama Babul Azaj. Pengelolaan sekolah ini diserahkan sepenuhnya kepada Syeikh Abdul Qadir Al Jailani. Beliau mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh. Bermukim disana sambil memberikan nasehat kepada orang-orang yang ada tersebut. Banyak sudah orang yang bertaubat karena mendengar nasehat dan kalam hikmahnya beliau. Banyak orang yang bersimpati kepada beliau, lalu datang ke sekolah beliau. Sehingga sekolah itu tidak cukup untuk menampung orang yang datang ingin berguru kepada Syaikh Abdul Qadir.
Pada tahun 521 H/1127 M, dia mengajar dan berfatwa dalam semua madzhab. Ia berdakwah kepada semua lapisan masyarakat, hingga dikenal masyarakat luas. Selama 25 tahun Syaikh Abdul Qadir Jailani menghabiskan waktunya sebagai pengembara sufi di Padang Pasir Iraq. Akhirnya beliau dikenal oleh dunia sebagai tokoh sufi besar dunia Islam. Selain itu dia memimpin madrasah dan ribath di Baghdad yang didirikan sejak 521 H sampai wafatnya di tahun 561 H.
Madrasah itu tetap bertahan dengan dipimpin anaknya, syaikh Abdul Wahab (552-593 H/1151-1196 M). Kemudian diteruskan anaknya syaikh Abdul Salam (611 H/1214 M). Juga dipimpin anak kedua Syaikh Abdul Qadir Jailani, syaikh Abdul Razaq (528-603 H/1134-1206 M). Namun sayang sekali, sekolah yang besar itu akhirnya hancur ketika Baghdad diserang oleh tentara Mongol yang biadab pada tahun 656 H/1258 M.
Syeikh Abdul Qadir Jailani juga dikenal sebagai pendiri sekaligus penyebar salah satu tarekat terbesar di dunia bernama tarekat Qadiriyah, bahkan beliau adalah salah satu dari al-Auliya' al-Aqthab al-Arba'ah (empat wali qutub / imam ilmu hakikat), yaitu sayidi Ahmad al-Rifa'i, sayidi Abdul Qodir al-Jailani, sayidi Ahmad al-Badawi, sayidi Ibrahim ad-Dusuqi.

Kesaksian Para Syaikh

Syaikh Junaid al-Baghdadi, hidup 200 tahun sebelum kelahiran Syaikh Abdul Qadir. Namun, pada saat itu ia telah meramalkan akan kedatangan Syaikh Abdul Qadir Jailani. Suatu ketika Syaikh Junaid al-Baghdadi sedang bertafakkur, tiba-tiba dalam keadaan antara sadar dan tidak, ia berkata, "Kakinya ada di atas pundakku! Kakinya ada di atas pundakku!".
Setelah ia tenang kembali, murid-muridnya menanyakan apa maksud ucapan beliau itu. Kata Syaikh Junaid al-Baghdadi, “Aku diberitahukan bahwa kelak akan lahir seorang wali besar, namanya adalah Abdul Qadir yang bergelar Muhyiddin. Dan pada saatnya kelak, atas kehendak Allah, ia akan mengatakan, ˜Kakiku ada di atas pundak para Wali.”
Syaikh Abu Bakar ibn Hawara, juga hidup sebelum masa Syaikh Abdul Qadir. Ia adalah salah seorang ulama terkemuka di Baghdad. Konon, saat ia sedang mengajar di majelisnya, ia berkata:
“Ada 8 pilar agama (autad) di Irak, mereka itu adalah; 1) Syaikh Ma’ruf al Karkhi, 2) Imam Ahmad ibn Hanbal, 3) Syaikh Bisri al Hafi, 4) Syaikh Mansur ibn Amar, 5) Syaikh Junaid al-Baghdadi, 6) Syaikh Siri as-Saqoti, 7) Syaikh Abdullah at-Tustari, dan Syaikh Abdul Qadir Jailani.”
Ketika mendengar hal itu, seorang muridnya yang bernama Syaikh Muhammad ash-Shanbaki bertanya, “Kami telah mendengar ke tujuh nama itu, tapi yang ke delapan kami belum mendengarnya. Siapakah Syaikh Abdul Qadir Jailani?”
Maka Syaikh Abu Bakar pun menjawab, “Abdul Qadir adalah orang salih yang tidak terlahir di Arab, tetapi di Jaelan (Persia) dan akan menetap di Baghdad.”
Qutb al Irsyad Abdullah ibn Alawi al Haddad ra. (1044-1132 H), dalam kitabnya “Risalatul Mu’awanah” menjelaskan tentang tawakkal, dan beliau memilih Syaikh Abdul Qadir Jailani sebagai suri-teladannya.
Seorang yang benar-benar tawakkal mempunyai 3 tanda. Pertama, ia tidak takut ataupun mengharapkan sesuatu kepada selain Allah. Kedua, hatinya tetap tenang dan bening, baik di saat ia membutuhkan sesuatu ataupun di saat kebutuhannnya itu telah terpenuhi. Ketiga, hatinya tak pernah terganggu meskipun dalam situasi yang paling mengerikan sekalipun.
Dalam hal ini, contohnya adalah Syaikh Abdul Qadir Jailani. Suatu ketika beliau sedang berceramah di suatu majelis, tiba-tiba saja jatuh seekor ular berbisa yang sangat besar di atas tubuhnya sehingga membuat para hadirin menjadi panik. Ular itu membelit Syaikh Abdul Qadir, lalu masuk ke lengan bajunya dan keluar lewat lengan baju yang lainnya. Sedangkan beliau tetap tenang dan tak gentar sedikitpun, bahkan beliau tak menghentikan ceramahnya.
Ini membuktikan bahwa Syaikh Abdul Qadir Jailani benar-benar seorang yang bertawakkal dan memiliki karamah.
Syaikh Hafidz al Barzali, mengatakan, “Syaikh Abdul Qadir Jailani adalah seorang ahli fiqih dari madzhab Hanbali dan Syafi’i sekaligus, dan merupakan Syaikh (guru besar) dari penganut kedua madzhab tersebut. Dia adalah salah satu pilar Islam yang doa-doanya selalu makbul, setia dalam berdzikir, tekun dalam tafakkur dan berhati lembut. Dia adalah seorang yang mulia, baik dalam akhlak maupun garis keturunannya, bagus dalam ibadah maupun ijtihadnya.”
Syaikh Abdullah al Jubba’i mengatakan:
“Syaikh Abdul Qadir Jailani mempunyai seorang murid yang bernama Umar al Halawi. Dia pergi dari Baghdad selama bertahun-tahun, dan ketika ia pulang, aku bertanya padanya: “Kemana saja engkau selama ini, ya Umar?” Dia menjawab: “Aku pergi ke Syiria, Mesir, dan Persia. Di sana aku berjumpa dengan 360 Syaikh yang semuanya adalah waliyullah. Tak satu pun di antara mereka tidak mengatakan: “Syaikh Abdul Qadir Jailani adalah Syaikh kami, dan pembimbing kami ke jalan Allah.”

Kisah Yang Terkenal

Pada suatu malam ketika beliau sedang bermunajat kepada Allah yang panjang. Tiba-tiba muncul seberkas cahaya terang. Bersamaa dengan itu, terdengar suara, “Wahai Syaikh, telah kuterima ketaatanmu dan segala pengabadian dan penghambaanmu, maka mulai hari ini kuhalalkan segala yang haram dan kubebaskan kau dari segala ibadah”.
Abdul Qadir Jailanai mengambil sandalnya dan melemparkan ke cahaya tersebut dan menghardik “Pergilah kau syetan laknatullah!”.
Cahaya itu hilang lalu terdengar suara “Dari manakah kau tau aku adalah syetan?,”
Syaikh Abdul Qadir menjawab, Aku tahu kau syetan adalah dari ucapanmu. Kau berkata telah menghalalkan yang haram dan membebaskanku dari syariat, sedangkan Nabi Muhammad SAW saja kekasih Allah masih menjalankan syariat dan mengharamkan yang haram.
Syetan berkata lagi, Sungguh keluasan ilmumu telah menyelamatkanmu.
Syaikh Abdul Qadir berkata, Pergilah kau syetan laknattullah! Aku selamat karena rahmat dari Alah Swt. bukan karena keluasan ilmuku.

Syaikh Abdul Qadir dan Anak Seorang Wanita Miskin

Suatu saat, seorang wanita membawa anak laki-lakinya kepada Syaikh Abdul Qadir Jailani. Wanita itu berkata, Ya Sayidi, aku tahu bahwa Anda adalah Ghawts, dan aku tahu demi kehormatan dari Nabi, engkau memberi.
Wanita itu adalah seorang wanita yang miskin. Ia selalu menghadiri suhbat (asosiasi), dan ia melihat seluruh murid Syaikh menghadiri suhbat (nasihat) dan dzikir. Di hadapan setiap orang ada seekor ayam yang kemudian mereka makan.
Wanita itu berkata pada dirinya sendiri, Alhamdulillah, aku miskin dan Sayyidina Abdul Qadir kaya baik di dunia maupun di akhirat. Aku akan suruh anakku untuk duduk di sana. Setidaknya ia akan ikut makan di pagi dan malam hari.
Ia berkata, "Aku ingin anakku menjadi muridmu".
Beliau menerimanya. Anak itu adalah seorang anak yang berbadan cukup gemuk. Beliau menyuruh seorang murid, Muhamad Ahmad, "Bawa dia ke ruang bawah tanah dan berikan padanya award (roti kering) untuk khalwat (menyepi). Berikan untuknya sekerat roti dan minyak zaitun untuk makan setiap hari".
Wanita tadi datang setelah satu bulan dan berpikir bahwa anak laki-lakinya pasti makan ayam setiap harinya. Saat datang itu, ia melihat para murid Syaikh duduk dan sedang makan ayam.
Wanita itu bertanya pada Syaikh tentang anaknya. Syaikh Abdul Qadir menjawab, "Ia sedang di ruang bawah tanah memakan makanan yang istimewa".
Wanita itu senang, karena ia berpikir bahwa kalau para murid saja sedang makan ayam, pastilah anaknya sedang makan sapi.
Wanita itupun turun ke bawah dan melihat anak laki-lakinya. Dilihatnya anaknya tampak sangat kurus. Tapi, dia sedang duduk, membaca doa, berdzikir, dan cahaya memancar dari wajahnya.
Wanita itu mendatanginya. ia melihat sekerat roti di situ. Ia berkata, Apa ini?
Anaknya menjawab, Itulah yang aku makan, sekerat roti setiap hari.
Wanita itu kecewa. Ia kemudian mendatangi Syaikh Abdul Qadir dan berkata, "Aku membawa anakku untuk bersamamu".
Saat wanita itu berbicara, sang Syaikh memerintahkan para muridnya, "Makan"!
Setiap murid memakan ayam dihadapannya masing- masing. Yang dimakan bukan potongan-potongan, tapi ayam yang utuh yang telah masak. Lalu di kumpulkan tulang-tulang ayamnya. lalu beliau mengatakan " Wahai tulang-belulang, hiduplah dengan izinku"! Maka seketika tulang-belulang itu kembali hidup menjadi wujud ayam seperti sedia kala. Kemudian beliau berkata pada wanita itu, "Jika kau ingin anakmu mencapai suatu tingkat untuk dapat memakan ayam, maka ia harus lebih dahulu menjalani tarbiyah atau pelatihan".
Tarbiyah itu adalah untuk membina dan melatih pikiran, yang merupakan hal paling sulit. Itulah yang diperlukan.
Seorang yang ingin senang tentu harus berusaha keras untuk mencapainya. Demikian juga orang yang ingin berhasil, maka ia harus belajar dengan sungguh-sungguh sebagaimana dikatakan Syekh Abdul Qadir di atas.

Dalam Suatu Perjalanan

Pada suatu saat, Syaikh Abdul Qadir sedang berada dalam suatu perjalanan. Perjalanan yang ditempuhnya benar-benar berat. Ia harus melewati gurun padang pasir. Berhari-hari lamanya ia tidak menemukan air. Syaikh Abdul Qadir sudah sangat kehausan.
Tiba-tiba muncul segerombolan awan di langit. Awan itu seolah melindunginya. Dari awan itu jatuh tetesan air. Maka Syaikh Abdul Qadir segera meminum tetesan air dari atas itu. Hilanglah rasa dahaganya.
Kemudian aku melihat cahaya terang benderang, tiba-tiba ada suara memanggilku, "Wahai Abdul Qadir, Aku Rabbmu dan Aku telah halalkan segala yang haram kepadamu"
Maka Abdul Qodir berkata: Pergilah wahai engkau Syetan terkutuk.
Tiba-tiba awan itu berubah menjadi gelap dan berasap. Kemudian ada suara yang mengucapkan: "Wahai Abdul Qadir, engkau telah selamat dariku (syetan) dengan amalmu dan fiqihmu. Dan beliau berkata: "Bukan amal dan ilmu fiqihku yang telah menyelamatkanku, akan tetapi rahmat Allahlah yang menyelamatkanku". Demikian sedikit kisah tentang Abdul Qodir.

Syaikh Abdul Qadir memiliki 49 orang anak, 27 di antaranya adalah laki-laki. Beliaulah yang mendirikan tariqat al-Qadiriyah. Di antara tulisan beliau antara lain kitab

- Al-Fathu Ar-Rabbani,
- Al-Ghunyah li Thalibi Thariq Al-Haq dan
- Futuh Al-Ghaib.


Beliau wafat pada tanggal 10 Rabi'ul Akhir tahun 561 H bertepatan dengan 1166 M pada saat usia beliau 90 tahun.

Pertemuan Jailani dengan al-Hamadani

Abu Sa'id Abdullah ibn Abi Asrun (w. 585 H.), seorang imam dari Mazhab Syafi'i, berkata, "Di awal perjalananku mencari ilmu agama, aku bergabung dengan Ibn al-Saqa, seorang pelajar di Madrasah Nizamiyyah, dan kami sering mengunjungi orang-orang saleh. Aku mendengar bahwa di Baghdad ada orang bernama Yusuf al-Hamadani yang dikenal dengan sebutan al-Ghawts. Ia bisa muncul dan menghilang kapan saja sesuka hatinya.
Maka aku memutuskan untuk mengunjunginya bersama Ibn al-Saqa dan Syaikh Abdul Qadir Jailani, yang pada waktu itu masih muda. Ibn al-Saqa berkata, Apabila bertemu dengan Yusuf al-Hamadani, aku akan menanyakan suatu pertanyaan yang jawabannya tak akan ia ketahui.
Aku menimpali, Aku juga akan menanyakan satu pertanyaan dan aku ingin tahu apa yang akan ia katakan.
Sementara Syaikh Abdu-Qadir Jailani berkata, Ya Allah, lindungilah aku dari menanyakan suatu pertanyaan kepada seorang suci seperti Yusuf al-Hamadani Aku akan menghadap kepadanya untuk meminta berkah dan ilmu tauhidnya".
Maka, kami pun memasuki majelisnya. Ia sendiri terus menutup diri dari kami dan kami tidak melihatnya hingga beberapa lama. Saat bertemu, ia memandang kepada Ibn al-Saqa dengan marah dan berkata, tanpa ada yang memberitahu namanya sebelumnya, Wahai Ibn al-Saqa, bagaimana kamu berani menanyakan pertanyaan kepadaku dengan niat merendahkanku? Pertanyaanmu itu adalah ini dan jawabannya adalah ini! dan ia melanjutkan, Aku melihat api kekufuran menyala di hatimu.
Kemudian ia melihat kepadaku dan berkata, "Wahai hamba Allah, apakah kamu menanyakan satu pertanyaan kepadaku dan menunggu jawabanku? Pertanyaanmu itu adalah ini dan jawabannya adalah ini. Biarlah orang-orang bersedih karena tersesat akibat ketidaksopananmu kepadaku".
Kemudian ia memandang kepada Syaikh Abdul Qadir Jailani, mendudukkannya bersebelahan dengannya, dan menunjukkan rasa hormatnya. Ia berkata,"Wahai Abdul Qadir, kau telah menyenangkan Allah dan Nabi-Nya dengan rasa hormatmu yang tulus kepadaku. Aku melihatmu kelak akan menduduki tempat yang tinggi di kota Baghdad. Kau akan berbicara, memberi petunjuk kepada orang-orang, dan mengatakan kepada mereka bahwa kedua kakimu berada di atas leher setiap wali. Dan aku hampir melihat di hadapanku setiap wali pada masamu memberimu hak lebih tinggi karena keagungan kedudukan spiritualmu dan kehormatanmu".
Ibn Abi Asrun melanjutkan, Kemasyhuran Abdul Qadir makin meluas dan semua ucapan Syaikh al-Hamadani tentangnya menjadi kenyataan hingga tiba waktunya ketika ia mengatakan, ˜Kedua kakiku berada di atas leher semua wali". Syaikh Abdul Qadir menjadi rujukan dan lampu penerang yang memberi petunjuk kepada setiap orang pada masanya menuju tujuan akhir mereka.
Berbeda keadaannya dengan Ibn Saqa. Ia menjadi ahli hukum yang terkenal. Ia mengungguli semua ulama pada masanya. Ia sangat suka berdebat dengan para ulama dan mengalahkan mereka hingga Khalifah memanggilnya ke lingkungan istana. Suatu hari Khalifah mengutus Ibn Saqa kepada Raja Bizantium, yang kemudian memanggil semua pendeta dan pakar agama Nasrani untuk berdebat dengannya. Ibn al-Saqa sanggup mengalahkan mereka semua. Mereka tidak berdaya memberi jawaban di hadapannya. Ia mengungkapkan berbagai argumen yang membuat mereka tampak seperti anak-anak sekolahan.
Kepandaiannya mempesona Raja Bizantium itu yang kemudian mengundangnya ke dalam pertemuan pribadi keluarga Raja. Pada saat itulah ia melihat putri raja. Ia jatuh cinta kepadanya, dan ia pun melamar sang putri untuk dinikahinya. Sang putri menolak kecuali dengan satu syarat, yaitu Ibn Saqa harus menerima agamanya. Ia menerima syarat itu dan meninggalkan Islam untuk memeluk agama sang putri, yaitu Nasrani. Setelah menikah, ia menderita sakit parah sehingga mereka melemparkannya ke luar istana. Jadilah ia peminta-minta di dalam kota, meminta makanan kepada setiap orang meski tak seorang pun memberinya.

Kegelapan Menutupi Mukanya

Suatu hari seseorang melihat Ibnu al-Saqa. Orang yang bertemu dengan Ibn al-Saqa itu menceritakan bahwa ia bertanya kepadanya, "Apa yang terjadi kepadamu"?
Ibn al-Saqa menjawab, Aku terperosok ke dalam godaan.
Orang itu bertanya lagi, Adakah yang kau ingat dari Al Quran Suci?
Ibnu al-Saqa menjawab, Aku ingat ayat yang berbunyi, ˜Sering kali orang-orang kafir itu menginginkan sekiranya saja dulu mereka itu menjadi orang Islam". (Q.S. al-Hijr [15]: 2).
Orang itu menceritakan Ibnu al-Saqa gemetar seakan-akan sedang meregang nyawa. Aku berusaha memalingkan wajahnya ke Ka’bah, tetapi ia terus saja menghadap ke timur. Sekali lagi aku berusaha mengarahkannya ke Ka’bah, tetapi ia kembali menghadap ke timur. Hingga tiga kali aku berusaha, namun ia tetap menghadapkan wajahnya ke timur. Kemudian, bersamaan dengan keluarnya ruh dari jasadnya, ia berkata, "Ya Allah, inilah akibat ketidakhormatanku kepada wali-Mu, Yusuf al-Hamadani".
Sementara salah satu orang yang dulu menemui syaikh al-Hamadani, Ibn Abi Asrun menceritakan, Sementara aku sendiri mengalami kehidupan yang berbeda. Aku datang ke Damaskus dan raja di sana, Nuruddin al-Syahid, memintaku untuk mengurusi bidang agama, dan aku menerima tugas itu. Sebagai hasilnya, dunia datang dari setiap penjuru: kekayaan, makanan, kemasyhuran, uang, dan kedudukan selama sisa hidupku. Itulah apa yang diramalkan oleh al-Ghawts Yusuf al-Hamadani untukku.

Wala haula wala quwwata illa billah.

Kisah-kisah ini diambil dari kitab manaqib Syaikh Abdul Qodir al-jailani yang berjudul "Nurul Burhan" dan lain-lain.

Sekilas Kisah Sayidi Ahmad al-Rifa'i ra.

Ketinggian dan Kehalusan Budi Pekerti Aulia’illah

Sayyidi Ahmad Al Rifa’i dilahirkan pada tahun 500 Hijriah. Pertama kali beliau belajar Ilmu Fiqih Mazhab Syafi’i dengan mempelajari Kitab Al-Tanbih, akan tetapi beliau lebih cenderung kepada ilmu tasawuf. Beliau terkenal sebagi rujukan pimpinan ilmu thoriqoh, karena memiliki ilmu haqiqat yang tinggi dan sebagai wali qutub yang agung dan masyhur di zaman sebelum syeikh Abdul Qodir al Jailany ra. Beliau sangat terkenal dan memiliki pengikut yang banyak. Para pengikutnya terkenal dengan sebutan “Al-Thoifah Al-Rifa’iyah”.

Dalam kitab Tobaqot diterangkan, pada saat mengajar syeikh Ahmad Rifa’i tidak mau sambil berdiri. Orang-orang yang tinggalnya jauh bisa mendengar apa yang disampaikan beliau sama seperti orang yang dekat dengan tempat pengajian. Sehingga penduduk disekitar desa Ummi Abidah banyak yang keluar dari rumahnya untuk mendengarkan apa yang disampaikan oleh syeikh Ahmad Rifa’i ini. Bahkan orang yang tadinya tuli jika mau hadir mengaji, oleh Allah dibukakan pendengarannya sehingga bisa mendengar apa yang disabdakan oleh syeikh Ahmad Rifa’i. Para guru thoriqoh banyak yang hadir untuk mendengarkan sabda-sabda dari Syeikh Ahmad Al Rifa’i dengan menggelar sajadah sebagai tempat duduk. Setelah syeikh Ahmad selesai memberi pelajaran, mereka pulang sambil menempelkan sajadah kedadanya masing-masing, sehingga sesampai di rumah mereka bisa menjelaskan kepada para muridnya.


Banyak hal aneh yang sering terjadi pada diri murid Syeikh Ahmad Rifa’i seperti, mereka dapat masuk ke dalam api yang sedang menyala. Mereka juga dapat menjinakkan binatang buas, seperti harimau di mana hewan ini akan menuruti apa yang mereka katakan. Sehingga harimau ini dapat dijadikan kendaraan oleh mereka. Banyak lagi keajaiban-keajaiban lain yang ada pada mereka.

Ketika pertama kali Sayyidi Ahmad bertemu dengan seorang Wali bernama Syeikh Abdul Malik Al-Khonubi. Syeikh ini memberinya pelajaran berupa sindiran tetapi sangat berkesan buat Syeikh Ahmad Al Rifa’i. Sindiran itu berbunyi ; "Orang yang berpaling dia tiada sampai. Orang yang ragu-ragu tidak dapat kemenangan. Barangsiapa tidak mengetahui waktunya kurang, maka semua waktunya telah kurang". Setahun lamanya Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i mengulang-ulang perkataan ini.

Setelah setahun dia datang kembali menemui Syeikh Abdul Malik Al-Khonubi. Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i minta wasiat lagi, maka berkata Syeikh Abdul Malik; "Sangatlah keji kejahilan bagi orang-orang yang mempunyai Akal. Sangatlah keji penyakit pada sisi semua doktor. Sangatlah keji sekalian kekasih yang meninggalkan Wusul (sampai kepada Allah)". Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i mengulang-ulang pula perkatan itu selama setahun dan beliau banyak mendapat manfaat dari perkataan itu karena perkataan itu diresapi, dihayati dan diamalkan.

Salah satu dari sekian budi pekerti Syeikh Ahmad Al Rifa’i yang mulia ialah beliau seringkali membawa serta membersihkan pakaian orang-orang yang berpenyakit kusta dan beberapa penyakit yang sangat menjijikkan menurut pandangan umum. Dipeliharanya orang-orang yang sedang sakit itu, diantarkan makanan untuk mereka dan beliau juga turut makan bersama-sama dengan orang-orang sakit itu tanpa ada rasa jijik.

Kalau Syeikh Ahmad Al Rifa’i datang dari perjalanan, apabila telah dekat dengan kampung halamannya maka dipungutnya kayu bakar, setelah itu dibagi-bagikan kepada orang-orang sakit, orang buta, orang-orang jompo atau orang tua yang membutuhkan pertolongan. Syeikh Ahmad berkata : “Mendatangi orang-orang yang semacam itu bagi kita wajib bukan hanya sunah. Bahkan Nabi bersabda : “Barang siapa yang memuliakan orang tua muslim, maka Allah akan meluluhkan orang untuk memuliakannya apabila ia sudah tua”.

Beliau setiap kali dijalan selalu menanti datangnya orang buta, kalau ada orang buta datang lalu dipegang dan dituntun sampai tujuan. Beliau mempunyai kasih sayang bukan hanya kepada manusia saja, tetapi juga kepada binatang, sehingga kalau bertemu dengan siapa saja selalu mendahului memberi salam, bahkan juga kepada hewan. Diriwayatkan bahwa ada seekor anjing yang menderita sakit kusta. Kemana saja anjing itu pergi, ia akan diusir. Anjing tersebut diambil oleh Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i lalu dimandikan dengan air panas, diberikan obat dan makan secukupnya, sampai anjing tersebut sembuh dari penyakit yang dideritanya. Kalau ada orang yang bertanya tentang apa yang diperbuatnya beliau berkata : “Aku selalu membiasakan pekerjaan yang baik. Syeikh Ahmad ini kalau dihinggapi nyamuk beliau membiarkannya dan tidak boleh ada orang lain yang mengusirnya. Beliau berkata, “Biarkanlah dia meminum darah yang dibagikan Allah kepadanya. Pada suatu hari ada seekor kucing sedang nyenyak tidur di atas lengan bajunya. Waktu sholat telah masuk, lalu digunting lengan bajunya itu karena tidak sampai hati mengejutkan kucing yang sedang lelap tidur itu. Seusai sholat lengan bajunya diambil dan dijait lagi.

Budi pekerti mulia yang lain ialah beliau tidak mau membalas kejahatan dengan kejahatan. Apabila beliau dimaki oleh orang, beliau terus menundukkan kepalanya mencium bumi dan menangis serta meminta maaf kepada yang memakinya. Beliau pernah dikirimi surat oleh Syeikh Ibrohim al Basity yang isi suratnya merendahkan martabat beliau, lalu beliau berkata kepada orang yang menyampaikan surat itu : “Coba bacalah surat itu, dan ternyata isinya adalah : “Hai orang yang buta sebelah, hai dajjal, hai orang yang bikin bid’ah dan berbagai macam perkataan yang menyakitkan hati". Setelah selesai membaca surat kemudian surat itu diterima oleh syeikh Ahmad, dibaca kemudian berkata : “Ini semua betul, smoga Allah membalas kebaikan kepadanya. Beliau terus berkata dengan syiir, “Maka tidaklah aku peduli kepada orang yang meragukan aku yang penting menurut Allah, aku bukanlah orang yang meragukan. Kemudian syeikh berkata : “Tulislah sekarang jawaban balasanku yang berbunyi “Dari orang rendahan kepada tuanku syeikh Ibrohim. Mengenai tulisanmu seperti yang tertera dalam surat, memang Allah telah menjadikan aku menurut apa yang dikehendaki-Nya dan aku mengharapkanmu hendaknya sudi bersedekah kepadaku dengan mendo’akan dan memaafkanku". Setelah surat balasan ini sampai pada syeikh Ibrohim dan dibaca isinya, kemudian syeikh Ibrohim pergi entah kemana tidak ada orang yang tahu.

Jika ada orang minta dituliskan azimat kepadanya, maka Syeikh Ahmad mengambil kertas lalu ditulis tanpa pena. Sewaktu beliau pergi Haji, ketika berziarah ke Maqam Nabi Muhammad Saw, maka nampak tangan dari dalam raudloh, Nabi bersalaman dengan beliau dan beliau pun terus mencium tangan Nabi SAW yang mulia itu. Kejadian itu dapat disaksikan oleh orang ramai yang juga berziarah ke Maqam Nabi Saw tersebut. Salah seorang muridnya berkata ; “Ya Sayidi! Tuan Guru adalah Qutub”. Jawabnya; “Sucikan olehmu syak mu daripada Qutubiyah”. Kata murid: “Tuan Guru adalah Ghauts!”. Jawabnya: “Sucikan syakmu daripada Ghautsiyah”. Al-Imam Sya’roni mengatakan bahwa yang demikian itu adalah dalil bahwa Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i telah melampaui “Maqaamat” dan “Athwar” karena Qutub dan Ghauts itu adalah Maqam yang maklum (diketahui umum).

Sebelum wafat beliau telah menceritakan kapan waktunya akan meninggal dan sifat-sifat hal ihwalnya beliau. Beliau akan menjalani sakit yang sangat parah untuk menangung bala'-bala'nya para makhluk. Sabdanya, “Aku telah di janjikan oleh Allah, agar nyawaku tidak melewati semua dagingku (daging harus musnah terlebih dahulu). Ketika Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i sakit yang mengakibatkan kewafatannya, beliau berkata, “Sisa umurku akan kugunakan untuk menanggung bala'-bala' agungnya para makhluk. Kemudian beliau menggosok-ngosokkan wajah dan uban rambut beliau dengan debu sambil menangis dan beristighfar . Yang dideritai oleh Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i ialah sakit “Muntah Berak”. Setiap hari tak terhitung banyaknya kotoran yang keluar dari dalam perutnya. Sakit itu dialaminya selama sebulan. Hingga ada yang tanya, “Kok, bisa sampai begitu banyaknya yang keluar, dari mana yaa kanjeng syeikh. Padahal sudah dua puluh hari tuan tidak makan dan minum. Beliau menjawab, “Karena ini semua dagingku telah habis, tinggal otakku, dan pada hari ini nanti juga akan keluar dan besok aku akan menghadap Sang Maha Kuasa. Setelah itu ketika wafatnya, keluarlah benda yang putih kira-kira dua tiga kali terus berhenti dan tidak ada lagi yang keluar dari perutnya. Demikian mulia dan besarnya pengorbanan Aulia' Allah ini sehingga sanggup menderita sakit menanggung bala yang sepatutnya tersebar kepada manusia lainnya. Wafatlah Wali Allah yang berbudi pekerti yang halus lagi mulia ini pada hari Kamis waktu duhur 12 Jumadil Awal tahun 570 Hijrah. Riwayat yang lain mengatakan tahun 578 Hijrah.

Walaa haula wala quwwata illa billah.

Bid’ah, Senjata Pamungkas Kaum Fundamentalis

Oleh: Gus Mied Baidlowi
(Mahasiswa Fak. Hadits Ushuluddin Al-Azhar Cairo Mesir).

Dunia fana yang semakin tua umurnya, semakin terasa tua pula untuk dapat merasakan nilai-nilai cinta kasihnya. Sebagaimana cinta kasih yang pernah tertuang di masa baginda rasulullah yang mulia, yang senantiasa terabadikan dalam sejarah Islam seantero dunia. Itu semua disebabkan karena munculnya kelompok orang yang notabenenya mengaku sebagai pengikut rasulullah, tapi pada hakikatnya justru mereka sendiri yang jauh dan menyimpang dari akhlak mulia nabi dan nilai-nilai yang diajarkannya. Kanjeng rasul dalam setiap dakwahnya selalu mengedepankan sikap rahmah dan cinta kasih terhadap setiap manusia, baik dari kaum muslim maupun non muslim, sehingga Islam dengan pesat menyebar dipelbagai pelosok negeri saat itu, bahkan orang-orang yang pada awalnya menentang keras Islam tapi dengan sebab akhlak mulia sang baginda, mereka berbondong-bondong masuk Islam dengan rasa bangga. Berbeda dengan kelompok fundamentalis yang dalam setiap dakwahnya jauh dari mencerminkan akhlak baginda nabi, bahkan malah menjauhkan kaum muslimin dari ajaran Islam yang sebenarnya, bahkan tak heran mereka menyesat-sesatkan sesama kaum muslimin. Padahal untuk berdakwah mengislamkan satu orang kafir saja amat sangat susah, tapi dengan mudahnya mereka malah mengafir-kafirkan orang Islam yang tak bersalah. Apa kata dunia?

Sedih dan pilu rasanya, ketika melihat sekelompok golongan manusia yang dengan lantang berkata: “Kamilah sang pengamal al-Qur’an dan as-Sunnah”. Tapi pada kenyataannya merekalah yang menodai al-Qur’an dan as-Sunnah, membuat luka dan catatatan merah di hati orang-orang Islam yang lemah. Senjata pamungkas yang selalu di gembor-gemborkan ketika melihat perbedaan orang lain yang tidak sepaham, serta merta dari mulut mereka bak menghunuskan pedang yang sangat tajam yang akan melukai orang di sekelilingnya, dengan lantang mereka berkata: “Itu adalah perbuatan bid’ah, yang tidak ada asal-muasalnya”. Tak heran jika orang-orang Islam yang lemah imannya, takut dan tanpa berpikir panjang ikut mereka, karena mereka bak tuhan yang mengetahui segalanya, sang pemilik surga dan neraka, sehingga dengan seenaknya menghukumi orang lain sebagai pelaku bid’ah, bahkan syirik dan kafir. Namun lucunya ketika ditanya apa definisi dari bid’ah, syirik dan kafir? Mereka sendiri tidak benar-benar paham apa definisi, maksud dan tujuannya. So, sangat memalukan….!!!

Bid’ah dan Macam-Macamnya Menurut Kaum Fundamentalis

Sering kali kita mendengar para khatib masjid saat berkhutbah, dengan lantangnya mereka membacakan sebuah perkataan yang notabenenya terkenal dengan hadits rasulullah:

Iyyakum muhdatsatil umur, fa inna kulla muhdatsatil umur bid’atun, wa kullu bid’atin dlolalatun, wa kullu dlolalatin fi al-nar.
Yang artinya: “Jauhilah kamu sekalian perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya perkara-perkara baru itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan maka tempatnya adalah neraka”.

Di dalam hadits tersebut disebutkan semua yang baru adalah bid’ah, dan setiap yang bid’ah adalah sesat dan semua yang sesat maka tempatnya adalah neraka. Tapi pada prakteknya berbeda, mereka sendiri membagi bid’ah menjadi dua:
a. Bid’ah di dalam ibadah atau sering disebut dengan bid’ah secara syar’i (syari’at)
b. Bid’ah di luar ibadah (adat) atau sering di sebut bid’ah secara lughawi (bahasa).

Nah, dari sini muncul pertanyaan, kenapa mereka membagi bid’ah menjadi dua?
Padahal hadits di atas menyebutkan secara keseluruhan, tanpa membaginya. Bahkan penulis adalah seorang mahasiswa jurusan hadits, dan telah mencari referensi buku-buku literatur hadits, namun tidak ada satupun hadits yang menjelaskan tentang pembagian bid’ah menurut versi mereka. Menurut penulis pembagian seperti itu adalah rekayasa mereka saja, supaya dengan mudah bisa menghukumi orang lain yang berbeda pendapat dan tidak sepaham dengan mereka sebagai pelaku bid’ah yang sesat, sedangkan bid’ah-bid’ah yang mereka lakukan adalah tidak termasuk dari bid’ah yang sesat.

Setelah mereka membagi bid’ah menjadi dua, selanjutnya mereka menghukuminya. Bagi mereka bid’ah di luar ibadah (adat) atau yang sering di sebut bid’ah secara lughawi hukumnya boleh, sedangkan bid’ah di dalam ibadah atau yang sering di sebut bid’ah secara syar’i hukumnya haram.

Pernah suatu ketika teman penulis di bilang bid’ah gara-gara dia berdzikir dan membaca shalawat menggunakan tasbih. Karena bagi mereka tasbih adalah bid’ah, hal baru yang tidak ada di zaman rasulullah. Kalau mereka dengan mudahnya mengklaim tasbih itu sebagai sebuah bid’ah yang sesat, penulis ingin mengajak para pembaca untuk melihat masjid-masjid yang mereka gunakan untuk ibadah sholat setiap harinya. Ternyata masjid-masjid mereka sendiri telah tercampur oleh bid’ah-bid’ah dan hal-hal baru yang tidak ada di zaman rasulullah.

Beberapa contoh dari hal-hal baru itu, adalah;
a. Di zaman rasulullah, tempat pengimaman itu lurus tidak dibuat cekungan di depannya sama sekali, dan hal ini yang membuat bid’ah pertama kali adalah sayidina Umar bin Khattab ra, dengan tujuan agar suara seorang imam akan lebih keras terdengar oleh makmum saat sholat, karena suaranya akan memantul ke belakang..
b. Sebuah mimbar tinggi dan bertingkat yang di gunakan untuk berkhutbah, itupun dizaman rasulullah tidak ada, dan yang membuatnya pertama kali adalah sayidina Abu Bakar ra.
c. Bid’ah yang dilakukan oleh Sayyidina Umar ibn Khattab ketika mengumpulkan semua umat Islam untuk mendirikan shalat tarawih berjamaah. Tatkala Sayyidina Umar melihat orang-orang itu berkumpul untuk shalat tarawih berjamaah, dia berkata: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”.
d. Kitab suci al-Quran dizaman rasulullah tidak boleh di bukukan, tetapi apa yang terjadi ketika zaman sayidina Utsman bin ‘Affan? Al-Quran telah dibukukan dengan rapi bahkan ditulis lagi dan diperbanyak, untuk tujuan apa al-Qur’an di bukukan kalau tidak untuk mempermudah beribadah dengan membaca kalam suci Ilahi setiap harinya.
e. Sayyidina Utsman ibn Affan menambah adzan untuk hari Jumat menjadi dua kali. Imam Bukhari meriwatkan kisah tersebut dalam kitab Shahih-nya bahwa penambahan adzan tersebut karena umat Islam semakin banyak. Selain itu, Sayyidina Utsman juga memerintahkan untuk mengumandangkan iqamat di atas az-Zawra’, yaitu sebuah bangunan yang berada di pasar Madinah.
f. Kemudian setelah zaman semakin modern terciptalah microphone, sebuat alat pengeras suara yang di gunakan oleh para imam sholat di masjid-masjid dan tidak terkecuali juga masjid al-Haram dan masjid al-Nabawi, padahal ini adalah produk baru yang sama sekali tidak ada dizaman rasulullah.
g. “Doa adalah inti ibadah” sabda kanjeng rasul. Dan dizaman sekarang banyak orang yang berdo’a dengan menggunakan bahasanya sendiri-sendiri (non bahasa Arab). Lantas apakah ibadah do’a karangan sendiri dengan menggunakan bahasa selain Arab termasuk bid’ah yang sesat yang akan mengakibatkan sang pelakunya masuk neraka? Sungguh, kata bid’ah bak momok yang menyeramkan lebih seram dari sekedar hantu pocong ataupun kuntilanak gentayangan.

Dari contoh-contoh sederhana di atas, cukup sudah untuk mengoreksi kembali pemahaman dangkal tentang bid’ah. Kalau mereka konsisten memegang teguh pendirian dan pemahaman mereka, maka seharusnya contoh hal-hal baru yang telah penulis sebutkan seharusnya tidak mereka gunakan, karena mengingat itu semua adalah bid’ah dalam beribadah (syar’i) yang tidak pernah dilakukan oleh rasulullah. Tapi, pada kenyataannya mereka bak telah memakan air ludahnya sendiri, membid’ah-bid’ahkan dan menyesat-sesatkan orang lain tapi memperbolehkan untuk golongannya sendiri.

Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Sayyiah

Bagi penulis makna bid’ah bukan seperti yang mereka ungkapkan. Sebab Allah telah menciptakan manusia dengan berbeda-beda karakter dan sifatnya. Allah tidak menciptakan manusia berhati baik semua, ataupun berhati busuk semua. Melainkan ada manusia yang berhati baik dan ada pula yang berhati busuk. Dari orang yang berhati baik akan muncul bid’ah dan pembaharuan-pembaharuan yang baik. Dan dari orang-orang yang berhati busuk maka akan lahirlah bid’ah dan pembaharuan-pembaharuan yang buruk pula.
Sebagai contohnya adalah buah Anggur. Darinya akan bisa muncul dua macam bentuk bid’ah; baik (hasanah) dan buruk (sayyiah). Pada asalnya buah Anggur hukumnya adalah halal, tetapi apabila dibuat bid’ah (hal yang baru) dengan cara dipendam dalam waktu tertentu maka berubah menjadi khamr (minuman keras), sedangkan apabila buah Anggur itu di keringkan dengan cara dijemur dalam waktu tertentu maka akan berubah menjadi Kismis yang dalam bahasa arab dinamakan Zabib. Kedua bid’ah itu ketika ditimbang dengan dasar hukum agama Islam (al-Qur’an dan as-Sunnah), maka mempunyai hukum yang berbeda walaupun sama-sama bid’ah. Khamr (minuman keras) merupakan contoh bid’ah sayyiah yang hukumnya sudah jelas haram untuk diminum. Sedangkan Kismis adalah contoh bid’ah hasanah yang sama sekali tidak di haramkan oleh syari’at Islam, maka hukumnya halal untuk dimakan.
Sehingga rasulullah bersabda:

Man sanna fil Islami sunnatan hasanatan, falahu ajruha wa ajru man ‘amila biha, wa man sanna fil Islami sunnatan sayyiatan, fa ‘alaihi wizruha wa wizru man ‘amila biha ila yaumil qiyamah duna an yanqusho min auzarihim syai’.
Yang artinya: “Barang siapa membuat sunnah (tradisi baru) yang baik didalam Islam, maka baginya pahala dan pahala orang yang mengamalkannya, dan barang siapa yang membuat sunnah ( tradisi baru) yang jelek, maka baginya dosa dan dosa orang yang mengerjakannya sampai hari kiamat nanti tanpa berkurang sedikitpun dari dosa-dosa mereka”.

Dari sebuah bid’ah hasanahlah kemudian setelah berjalannya waktu yang cukup panjang maka istilah bid’ah berubah menjadi sebuah sunnah hasanah yang patut untuk tetap dilestarikan, dan dari bid’ah sayyiahlah asal-muasal sunnah sayyiah yang sesat dan menyesatkan. Jadi, tidak semua yang berbau baru dan modern itu adalah bid’ah yang sesat dan tidak ada sumbernya dalam dasar hukum Islam.
Sejak awal rasul sudah memberikan sebuah kaedah, yang berbunyi:

Man ahdatsa fi amrina hadza ma laisa minhu fahuwa roddun
Yang artinya :” Barang siapa membuat hal baru dalam perkara kami ini (Qur’an dan Hadits), yang bukan termasuk darinya maka tertolak”.

Hadits di atas ini sangat benar dan sesuai dengan apa yang telah di lakukan oleh para sahabat dan ulama’ salafus sholih. Akan tetapi yang terjadi adalah “nashshun shohihun wa fahmuhu khoti’un li nashshin shohihin”. Hadits di atas sering dipahami keliru oleh mereka kaum foundamentalis yang selalu bersifat tekstual tanpa melihat tanda-tanda dan makna yang tersirat di dalamnya. Sebab hadits di atas kalo kita teliti dengan jeli maka akan mengungkapkan hukum bid’ah dengan muhkam dan jelas. Tanda-tanda yang perlu dicermati adalah perbedaan makna lafadz fi dalam kalimah “fi amrina dan lafadz “min” dalam kalimat “minhu”. “Fi” dalam kalimat “fi amrinaadalah bentuk pembaharuan yang sama sekali tidak bersumber dari nilai-nilai yang telah di perintahkan oleh dasar hukum Islam, sedangkan “min” dalam kalimat "minhu" adalah bentuk pembaharuan yang berasal dari nilai-nilai yang telah diperintahkan oleh dasar hukum Islam. Sehingga hadits di atas mempunyai mafhum mukhalafah atau makna tersirat sebagai berikut :

Man ahdatsa fi amrina hadza ma huwa minhu fa laisa roddan yakni maqbulan
Yang artinya :”Barang siapa membuat hal baru di dalam perkara kami ini (Qur’an dan Hadits) yang bersumber darinya maka itu tidak tertolak alias diterima”.

Berangkat dari pemahaman cermat dan tepat dari hadits di atas, para sahabat dan ulama salafus shaleh membuat pembaharuan di dalam Islam, sebagaimana sayidina Umar bin khattab mengusulkan pembukuan al-Quran, dan al-Imam syafi’i merumuskan ilmu-ilmu baru dalam khazanah ke-Islam-an seperti ilmu Ushul Fiqih, Ilmu Fiqih, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits dan lain sebagainya. Sehingga beliau al-Imam al-Syafi’i dengan tegas membagi bid’ah menjadi dua; hasanah dan sayyiah. Bid’ah hasanah adalah sebuah pembaharuan yang tidak menyimpang dari dasar hukum Islam (Qur’an dan Sunnah), sedangkan bid’ah sayyiah adalah pembaharuan yang menyimpang dan melanggar ketentuan Qur’an dan Sunnah.

Mereka para sahabat dan para ulama’ sekaliber para imam madzhab, adalah orang-orang yang telah memahami al-Qur’an dan as-Sunnah dengan benar. Hanya para ulama’ gadungan yang sok pintarlah, yang dengan mudah membid’ah-bidahkan bahkan menyesat-seesatkan orang lain padahal pada hakikatnya mereka sendirilah yang sesat dan menyesatkan, karena tipu daya syetan yang membuat diri mereka sombong dan karena sebab kejahilan mereka merasa dirinya paling benar.

Sebenarnya Allah telah menjelaskan itu semua di dalam al-Quran, sebagaimana firman-Nya dalam surat an-Nisa’ ayat 83:
Law rodduhu ilar rasuli wa ila ulil amri minhum, la’alimahulladzina yastanbithunahu minhum.
Yang artinya: “Jikalau mereka mengembalikannya (segala permasalahan) kepada rasulullah dan ulil amri di antara mereka, maka tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya, akan dapat mengetahuinya (beristinbat) dari mereka (rasul dan ulil amri).

Istilah “ulil amri”, tidak selalu bermakna seorang penguasa atau pemerintah, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni setiap orang yang menguasai suatu permasalah atau suatu urusan, maka dia termasuk dari ulil amri. Dalam hal ini mereka para sahabat dan ulama’ sejati seperti imam-imam madzhab termasuk dari ulil amri.dalam urusan menggali dasar hukum agama Islam (Qur’an dan Hadits) dan menerapkannya sesuai dengan maslahat dan perkembangan zaman. Sehingga mereka tidak serta merta menghukumi segala sesuatu dengan seenak perutnya sendiri sebagaimana peringatan Allah dalam surat an-Nahl ayat 116:

Wa laa taqulu lima tasifu alsinatukumul kadziba hadza halalun wa hadza haramun litaftaru ‘alallahil kadziba, innalladzina yaftaruna ‘alallahil kadziba la yuflihun.
Yang artinya: “ Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang di sebut-sebut oleh lidahmu secara dusta; “ini halal, dan ini haram”, untuk membuat kebohongan publik kepada Allah. Sesungguhnya orang yang membuat kebohongan terhadap Allah tidak akan beruntung”.

Jika mereka orang-orang fundamentalis (kelompok Wahhabi dan konco-konconya) bersikukuh berpendapat bahwa semua bid’ah adalah sayyiah dan sesat, maka mereka bak layaknya menghukumi sesat para sahabat dan para ulama’ salafus shalih. Bagi penulis lebih baik mengikuti bid’ah-bid’ahnya para sahabat nabi dan ulama’ salafus shalih, dari pada harus mengikuti pemikiran dan bid’ah-bid’ah sesat kelompok wahhabi dan antek-anteknya. Penulis dan orang-orang yang melestarikan bid’ah-bid’ah hasanah para sahabat dan ulama’ salafus shalih rela dengan sepenuh hati jika harus masuk neraka bersama para sahabat dan para ulama’ sejati yang selalu dalam naungan ridlo dan inayah Allah. Dan bagi kalian kaum fundamentalis silahkan masuk ke dalam surga yang telah kalian iklankan setiap harinya bersama teman-teman kalian. Bagi kami inilah jalan kami, dan bagi kalian itulah jalan kalian….!!!!

Walaa haula walaa quwwata illa billah.

Antara Isbal dan KCB “Kelompok Celana Banjir”

Oleh: Gus Mied Baidlowi
(Mahasiswa Fak. Hadits Ushuluddin Al-Azhar Cairo Mesir).

KCB, sebuah karya perfileman yang sukses dan mendapatkan perhatian lebih dari jutaan penonton baik dalam maupun luar negeri. Bahkan konon filem itu mengabiskan dana sampai puluhan milyar rupiah. Sehingga tak heran jika judul filem karya novelis muda Habiburrohman el-Sairozi.Lc itu selalu teringat di benak para penontonnya.

Namun dari itu, ternyata KCB tidak hanya terkenal menjadi sebuah judul filem saja, bahkan menjadi julukan bagi segolongan orang yang pakaiannya terlihat rada sedikit tidak wajar, karena model celana yang umumnya panjang menutupi mata kaki, oleh mereka dipotong sampai kelihatan betisnya. Merekalah “Kelompok Celana Banjir“ yang disingkat menjadi KCB.

Di mata penulis, itu adalah sebuah fenomena yang aneh tapi nyata, sekelompok orang yg mengenakan celana bak orang kebanjiran, padahal saat itu tak ada petir apalagi hujan. Tapi ternyata keanehan itu sungguh nampak disebagian lingkungan masyarakat sekitar kita yang notabenenya adalah mempelajari ilmu agama Islam.
Benarkah Islam mengajarkan yang seperti itu? Mari kita kaji bersama-sama!

Di salah satu buku hadits ditemukan sebuah perkataan:

"Man asbala tsaubahu fi al-naar".
Yang artinya “ barang siapa yg berisbal maka masuk neraka“.

Dari hadits ini, para penganut KCB beramai-ramai memotong celana dan jubah mereka hingga atas mata kaki. Bahkan menganggap orang lain yang tidak sepaham, mereka katakana telah salah dan siap-siaplah untuk masuk neraka.
Benarkah hadits ini bermakna seperti ungkapan di atas? Jikalau benar, maka hampir setengah umat muslimin akan masuk neraka sedangkan surga hanya akan dihuni penganut KCB.

Isbal adalah sebuah istilah yg berarti memanjangkan pakaian hingga melebihi mata kaki.
Dalam hadits di atas, perintahnya untuk umum tanpa membedakan jenis kelamin kaum lelaki ataupun perempuan. Tapi kenapa pada prakteknya hanya kaum laki-laki saja yang mempraktekkannya? Sedangkan kaum perempuan tidak? Dari sini timbul tanda tanya besar.

Mengenai pertanyaan di atas, penulis pernah mendengar jawaban dari seorang penganut KCB yang berdalih karena atas dasar aurat. Jikalau seperti itu, rasanya kurang tepat, sebab bukankah di dalam suatu riwayat hadits disebutkan nafsu syahwat perempuan itu lebih besar dari pada laki-laki, diibaratkan sembilan banding satu. Jadi, apakah hanya kaum laki-laki saja yang bersyahwat ketika melihat betis kaum perempuan? Sedangkan kaum perempuan tidak akan bersyahwat ketika melihat betisnya kaum laki-laki? Alasan ini menurut penulis harus di kaji ulang, bahkan jika berdasarkan riwayat hadits itu berarti tidak tepat.

Setelah mendengar alasan yang pertama tadi, penulis pernah menanyakan kepada salah seorang penganut KCB, tentang model pakaiannya yang serba pendek yang dalam bahasa jawanya “cingkrang”? Dan jawabannya: ”Demi menjaga pakaian dari najis yang berserakan di jalan-jalan”. Oh, begitu toh. Tapi sementara itu penulis melihat disampingnya sosok perempuan yang bercadar mengenakan pakaian hitam yang serba panjang, bahkan menyentuh tanah. Perempuan itu adalah istrinya. Lalu penulis terbesit pertanyaan di hatinya apakah suaminya tidak berfikir atas alasan yang dikemukakannya tadi, sedangkan istrinya sendiri malah mengenakan pakaian yang bersebrangan dengan jawabanya. Apakah hanya kaum laki-laki saja yang harus menjaga pakaiannya dari najis sedangkan kaum perempuan tidak? Oh, no!!!
Jadi, alasan yang kedua inipun terkesan lucu dan jauh dari yang diharapkan.

Di sini, penulis hanya ingin menyampaikan pendapatnya menurut substansi yang diajarkan oleh agama Islam yang selalu mengedepankan esensi dari pada atribut-atribut zahir yang sering menipu. Sebagaimana dipertegas oleh Rasulullah dalam sabdanya:

“Innallaha laa yandluru ila suwarikum wala ajsamikum, walakin yandluru ila qulubikum”.
Yang artinya “Bahwasanya Allah tidak melihat bentuk pakaian dan tubuh kalian, melainkan Allah senantiasa melihat hati kalian.

Lalu di perkuat lagi dengan sabda Rasulullah yang lain:

“Inna fil jasadi mudlghotun, idza soluhat soluhat jasadu kulluhu, wa idza fasadat, fasadat jasadu kulluhhu, alaa wahiya al-qolbu”.
Yang artinya: “ Sesungguhnya di dalam jasad itu ada segumpal darah, jika ia itu baik maka baiklah semuanya, dan jikalau ia rusak, maka rusaklah semuanya, apakah itu? dialah hati”.

Apalah artinya sebuah atribut pakaian yang melekat di tubuh, kalau ternyata hatinya lebih busuk dari orang gila yang tidak berpakaian sama sekali . Dan Islam itu, selalu melihat esensi dari setiap amal ibadah manusia bukan berdasarkan atribut semata.

Apakah gara-gara sebuah pakaian menjadi penghalang seseorang masuk surga? Sedangkan di sana ada seekor hewan yang dijanjikan Allah memasuki surga-Nya, padahal di dunia tidak pernah berpakaian sama sekali. Dialah Qitmir, anjingnya Ashabu al-Kahfi. Lantas, sebab-sebab apakah yang menjadikan seseorang terhalang untuk masuk surga? Baginda Rasulullah bersabda:

“La yadkhulu al-jannata man kana fi qolbihi mitsqola dzarrotin min kibrin”.
Yang artinya: “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat secuil sifat sombong”.
Itulah, sebab yang akan menghalang-menghalangi seseorang masuk dalam surga-Nya, bukan disebabkan atribut pakaian semata.

Setelah kita membahas hadits-hadits di atas, penulis ingin mengungkap hadits yang berkaitan tentang isbal secara lengkap. Sungguh benar Rasulullah pernah melarang isbal, akan tetapi isbal yang di larang bukan sembarang isbal, melainkan isbal yang disertai dengan sifat congkak dan sombong sebagaimana sabdanya:

“Man jarra tsaubahu khuyala’a fi al-nar”
Yang artinya: “Barang siapa yang memanjangkan pakaiannya dengan bersombong maka nerakalah tempatnya”.

Dari hadits ini, maka terjawablah sudah permaslahan yang menjadi problematika ini.di Sebab Allah tidak mungkin memasukkan hamba-Nya gara-gara masalah pakaian sebagaimana penjelasan hadits sebelumnya, yang menjadi masalahnya adalah sifat khuyala’ (sifat congkak dan sombong) tersebut.

Diperkuat lagi dengan sebuah riwayat yang menjelaskan asbabul wurudnya hadits di atas.
Saat itu, Rasulullah melihat kelakuan raja-raja Yaman yang pakaiannya serba panjang menjulur ke lantai seraya berbangga diri dan sombong merasa dirinya paling hebat, maka Rasulullah menyabdakan hadits itu. Baginda Nabi bukan melarang isbalnya melainkan sifat congkak dan sombong yang bersemayam di hati seseorang, sebagaimana halnya pertanyaan sayidina Abu Bakar perihal dirinya yang mengenakan baju lebar dan berisbal kepada baginda Nabi, “Apakah saya termasuk seperti mereka ya rasulallah”? Rasulullah menjawab: “Tidak, kamu tidak seperti mereka”. Sebab sayidina Abu Bakar adalah orang hatinya bersih dari sifat-sifat tercela tersebut.

Inilah salah satu problematika kaum muslimin yang seringkali membuat perpecahan dan bahkan saling menuduh salah satu sama lainnya, yang disebabkan karena: “Nashshun shohih wa fahmuhu khoti’un li nashshin shohih”. Yang artinya: "Teksnya benar, tapi pemahaman terhadap teksnya yang salah". Sehingga bukan solusi yang didapat, akan tetapi malah terperosok ke dalam jurang hitam yang semakin dalam. Maka dari itu waspadalah, jangan tertipu oleh kemasan semata, bisa jadi botol yang bertuliskan susu ternyata isinya minuman keras, dan sebaliknya botol yang bertuliskan minuman keras ternyata isinya air mineral.


Pesan penulis:
Wahai penganut KCB yang budiman, jangan sampai pemahaman yang anda anut itu malah menjerumuskan anda sendiri ke dalam neraka-Nya. Sebab sifat merasa anda yang paling benar dan menganggap yang lainnya salah itu dalam kategori congkak dan sombong, yang nantinya akan bisa menjadi penghalang anda sendiri untuk masuk ke surga-Nya. Wal-‘Iyadlubillah.


Wala haula walaa quwwata illa billah.

Bolehkah Kita Menyerupai Kaum Non-Muslim?

Oleh: Gus Mied Baidlowi
(Mahasiswa Fak. Hadits Ushuluddin Al-Azhar Cairo Mesir)

Pada dasarnya setiap manusia akan mempunyai tabiat meniru apa yang dianggap baik dan tidak ketinggalan zaman. Pakaian merupakan hiasan tubuh manusia yang modenya akan selalu berubah setiap zaman. Mode pakaian yang sudah ketinggalan zaman akan ditinggalkan dan mode pakaian masakinilah yang akan jadi trend.

Pada zaman sekarang ini peradaban negara-negara baratlah yang maju dan menguasai dunia, produk-produk dari desain teknologi mutahir yang ditemukan akan selalu menghiasi aktifitas interaksi manusia satu dengan yang lainnya. Mulai dari kebutuhan barang primer; seperti sandang, papan, dan makanan sampai kebutuhan sekunder, seperti alat transportasi; mulai dari sepeda ontel hingga pesawat, alat komunikasi; mulai dari secarik surat sampai telpon seluler. Dan kebutuhan manusia seperti itu akan mengalami pembaharuan disetiap zamannya, baik dari segi kualitas dan fasilitasnya.

Hampir semua alat-alat tersebut adalah hasil penemuan orang-orang barat yang notabenenya adalah non muslim. Masalah yang sampai sekarang menjadi pokok perbincangan seputar agama yang selalu menarik adalah sebuah pertanyaan yang berbunyi; apakah orang–orang Islam yang menyerupai atau meniru berpakaian dan menggunakan barang-barang tersebut, berarti telah termasuk dalam golongan mereka (kafir)? Mari kita bahas bersama-sama!

Sebenarnya, pokok masalah yang mendasari pertanyaan ini adalah hadits Rasulullah saw, yang berbunyi:

" من تشبه بقوم فهو منهم "

Yang artinya: “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari kaum itu”.

Sekarang yang jadi pembahasan dari hadits di atas adalah; jikalau makna hadits ini mutlak (semua aspek), maka hampir seluruh orang Islam telah masuk ke dalam golongan orang-orang non Islam alias kafir, karena hampir semua kebutuhan orang Islam menyerupai mereka, mulai dari berpakaian sampai penggunaan alat-alat canggih penemuan mereka. Maka, apa sih sebenarnya maksud dari hadits di atas?

Menyerupai atau meniru dalam berpakain dan penggunaan alat-alat canggih yang telah digunakan oleh orang-orang non muslim tidak akan menjadikan seorang muslim keluar dari agamanya alias murtad. Karena kanjeng Rasul telah bersabda:

" ان الله لا ينظر الي صوركم ولا اجسا مكم ولكن الله ينظر الي قلو بكم "

Yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk rupa ataupun bentuk badan kamu sekalian akan tetapi Allah melihat hati kamu sekalian”.

Kemudian Allah juga menegaskan didalam al-Quran :

" يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر "

Yang artinya;” Allah menghendaki kamu sekalian kemudahan dan tidak menghedaki kamu sekalian kesulitan” (QS: Al-Baqarah : 185).


an ini sesuai dengan hadits Rasulullah :

" يسروا ولا تعسروا “

Yang artinya: ”Permudahlah (urusan kamu sekalian) dan jangan kamu persulit”.

Jadi, sungguh jelas sekali bahwasanya Allah dan rasul-Nya menghendaki hamba-hamba-Nya untuk mempermudah segala urusannya, dan tidak memperdulikan bentuk pakaian, atau objek sarana baik untuk berinteraksi atau beribadah selama tidak melanggar ajaran agama Islam. Pada zaman Rasulullah saw, mode pakaian dan sarana transportasi belum sebagus dan secanggih sekarang. Untuk bepergian dari kota Mekkah ke kota Madinah saja, membutuhkan waktu berhari-hari, karena sarana transportasi yang ada saat itu sangat sederhana, yaitu berupa kuda dan unta. Terus, bagaimana dengan orang Islam yang hidup di zaman sekarang yang serba maju dan canggih ini? Apakah mereka harus bersusah payah seperti di zaman rasulullah dahulu, atau mereka harus meniru dan menyerupai orang-orang barat yang non Islam?

Jadi, yang dimaksud dari hadits di atas adalah; bukan meniru atau menyerupai dalam hal berpakaian dan penggunaan alat-alat modern yang telah mereka pakai sehari-hari, akan tetapi tasyabbuh (menyerupai) disitu adalah meniru atau menyerupai di dalam aqidah (keyakinan) terhadap sesuatu yang mereka sembah. Sebagaimana contoh keserupaan antara orang Islam dan orang Majusi yang sama-sama menggunakan api sebagai alat penerang dan alat bakar, akan tetapi di samping itu orang Majusi meyakini dan menyembahnya sebagai tuhan mereka, berbeda halnya dengan orang Islam.

Hemat penulis, menyerupai zahir suatu kaum tidak selalu merupakan indikasi terhadap adanya persamaan teologi dengan mereka yang ditiru. Tidak pula merupakan bentuk pengakuan akan superioritas orang yang ditiru, atau indikasi cinta kepada yang ditiru.

Adapun hadits di atas sesungguhnya memuji orang-orang jelata yang menyerupai atau meniru orang-orang shalih dalam keseharian mereka. Karena seorang penyair mengatakan:

" تشبهوا بالكرام إن لم تكونوا مثلهم # إن التشــبه بالكــرام فـلاح "

Yang artinya: Walau tak ada kesamaan, tirulah orang-orang mulia Walau sekedar tiruan, yakinlah anda akan jaya!.

Jadi, hadits di atas jangan ditafsirkan jauh-jauh. Karena orang yang berniat buruk tidak akan mendapat dosa sebelum melakukannya, sedangkan orang yang berniat baik sudah dapat pahala sebelum melakukannya. Begitu juga orang yang meniru orang kafir, tidak akan dinilai kafir jika tidak disertai niat (kesamaan keyakinan), sementara orang yang meniru orang shalih (walau zahirnya saja), insya'allah dapat juga gelar shalih.

Kesimpulannya; meniru dan menyerupai kaum non-muslim sangat diperbolehkan selama tidak menyerupai dalam aqidahnya, tidak membuka aurat dan tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.

Wala haula wala quwata illa billah.

Kasih Pengorbanan Seorang Ibu


IBU...

Ibunya buta sebelah mata...
dan dia malu memiliki ibu seperti itu.

Pada suatu masa, ibunya datang ke sekolah
untuk melihat-lihat keadaan belajar anaknya.
Dia sungguh malu
dan bersembunyi menghindar dari ibunya...
Dia tidak peduli
dan terus saja menghindar, bersembunyi...

Keesokan harinya...
teman-teman sekolah menertawainya...
"Eee... ibumu cuma punya satu mata..."

Ketika itu...
ia membenamkan dirinya...
Dia ingin ibunya hilang dari hidupnya...
Dia berkata pada ibunya:
"kalo hanya ingin membuat diri aku malu...
lebih baik kamu mati..!"

Ibunya...
hanya terdiam..!?

Dia pun terdiam dan berkata di dalam hati...
apa yang barusan ia katakan pada ibunya...
setelah amarah yang menguasai dirinya...
Dia tidak pedulikan perasaan ibunya...
dia ingin keluar dari rumah itu...

Kini dia juga telah mempunyai keluarga sendiri...

Suatu ketika ibunya datang ke rumahnya...
setelah beberapa lama tidak berjumpa...
Saat membuka pintu, seorang bocah kecil...
kaget dan menangis...
ketakutan melihat nenek tua
tanpa mata sebelah...

Ibu itu diusir seketika saja
oleh anaknya sendiri seraya berkata:
"kedatanganmu membuat anakku takut
dan menangis... pergi 'Kau'..!"

"Maaf...
mungkin saya salah alamat..."
balas ibunya.

Beberapa minggu kemudian dia mendapat undangan...
reunian teman sekolah dulu...
Dan dia pun pulang sendiri ke kampung halamannya
untuk bertemu dengan teman lamanya dulu.

Setelah selesai menghadiri acara reunian tersebut...
tergerak hatinya...
ingin melihat-lihat rumah tempat ia tinggal dulu...

saat tiba di rumah, ia tidak menjumpai ibunya...
Seorang tetangga memberikan sepucuk surat kepadanya
dan berkata bahwa ibunya telah meninggal dunia...


Di dalam surat itu tertulis...

"...Anakku tercinta...
...setiap detik...
hati ibu selalu terbayang oleh wajahmu.
Kutahan lapar serta dahaga...
karena rindu kepadamu...

...maafkan ibu...
karena wktu itu ibu datang,
hanya ingin melihat wajahmu...

...maafkan ibu...
telah membuat anakmu menangis ketakutan
melihat wajah ibu... tanpa sebelah mata...

Kini kau telah kembali...
mungkin bisa bertemu dengan
teman-temanmu dulu...

Tapi...
kau tak akan melihat ibu lagi...

Dulu...
di saat ibu melahirkan kamu...
alangkah sedih hatiku...
melihat kau lahir di dunia ini...
tanpa sebelah mata...

Ibu cinta kepadamu...
dan...
kukorbankan sebelah mataku, untukmu...
agar kau bisa melihat keindahan dunia ini...
dengan leluasa...

...Anakku yang tersayang...
maafkan ibu...
karena bagi ibu, ini tiada guna
untuk ibu cerita padamu...
itu semua karena...
aku ikhlas dan benar cinta padamu...

Maafin ibu...

Setelah membaca surat itu, sang anak langsung menangis tersedu-sedu menyesali atas apa yang telah ia lakukan pada sang ibu. `Hanya beberapa kalimat yang terucap dari mulut sang anak: oh ibu: "Maafkan aku...maafkan aku...maafkan aku bu..!!! Alangkah mulianya hati-mu bu..Oh, ibuku".

Begitulah cinta kasih seorang ibu yang berhati mulia, cintanya takkan pernah pudar termakan usia. "Cinta ibu sepanjang masa".

Cerita 7 Nikmat Keajaiban Dunia


Cerita ini diilhami oleh imajinasi seorang intuisis sejati, yang senantiasa merenungi segala anugerah tuhan yang tak pernah tertandingi bagi setiap makhluk-Nya.
Mari kita simak ceritanya...!!!

Saat itu, di suatu sekolah tingkat menengah sedang belajar dengan serius bersama guru pembimbingnya. Sekelompok pelajar kelas geografi sedang asyik belajar mengenai "Tujuh Keajaiban Dunia".

Pada akhir pelajaran, para pelajar tersebut di minta untuk membuat daftar apa yang mereka pikir merupakan "Tujuh Keajaiban Dunia" saat ini.
Walaupun ada beberapa ketidaksesuaian, sebagian besar daftar berisi :
1.. Piramida Besar di Mesir
2.. Taj Mahal
3.. Grand Canyon
4.. Panama Canal
5.. Empire State Building
6.. St. Peter's Basilica
7.. Tembok China

Ketika semuanya telah mengumpulkan daftar pilihan, sang guru memperhatikan seorang pelajar, seorang gadis yang pendiam, yang belum mengumpulkan kertas kerjanya. Jadi, sang guru bertanya kepadanya apakah dia mempunyai kesulitan dengan daftarnya.

Gadis pendiam itu menjawab, "Ya, sedikit. Saya tidak bisa memilih karena sangat banyaknya." Sang guru berkata, "Baik, katakan pada kami apa yang kamu miliki, dan mungkin kami bisa membantu memilihnya."
Gadis itu ragu sejenak, kemudian membaca, "Saya pikir Tujuh Keajaiban Dunia adalah :
1. Bisa bersyukur
2. Bisa merasakan
3. Bisa tertawa
4. Bisa mendengar

Dia ragu lagi sebentar, dan kemudian melanjutkan...
5. Bisa berbagi
6. Bisa mencintai
7. Dan bisa dicintai

Ruang kelas tersebut sunyi seketika ....
Alangkah mudahnya bagi kita untuk melihat pada eksploitasi manusia dan menyebutnya "keajaiban" sementara kita lihat lagi semua yang telah Tuhan lakukan untuk kita, menyebutnya sebagai "biasa". Owh, alangkah indahnya jawaban sang gadis itu, cuman satu kata yang sanggup ku ucapkan "Subhanallah atas segala kekuasaan-Nya, dan al-Hamdulillah atas setiap anugerah-Nya.

Semoga Anda hari ini diingatkan tentang segala hal yang betul-betul ajaib dalam kehidupan anda. bersyukurlah untuk apa yg telah kamu dapatkan sampai saat ini, .. karna itu sesungguhnya semua merupakan suatu keajaiban .. !!!!

Gus Dur, Ulama Kharismatik Yang Humoris

Sebelumnya INNALILLAHI WA INNA ILAIHI RAJI’UN.

Terima kasih dan selamat jalan Gus Dur; Bapak Pluralisme dan Multikultural
Semoga Allah SWT mengampuni kesalahan dan dosa serta memberi tempat terbaik disisi-Nya. Keluarga yang ditinggalkan tabah, ikhlas, dan dapat melanjutkan perjuangan Beliau. Amien.

Selain sisi intelektual tinggi dalam agama, perjuangan keadilan dan kebenaran, penegakan demokrasi dalam bingkai NKRI dan ‘memelihara’ pluralisme nusantara, Gus Dur dikenal sebagai sosok humoris.

INILAH KUMPULAN DARI BEBERAPA CERITA HUMOR YANG DIMILIKI OLEH GUSDUR.

1. Kaum Almarhum

Mungkinkah Gus Dur benar-benar percaya pada isyarat dari makam-makam leluhur? Kelihatannya dia memang percaya, sebab Gus Dur selalu siap dengan gigih dan sungguh-sungguh membela “ideologi”nya itu. Padahal hal tersebut sering membuat repot para koleganya.

Tapi, ini mungkin jawaban yang benar, ketika ditanya kenapa Gus Dur sering berziarah ke makam para ulama dan leluhur.

“Saya datang ke makam, karena saya tahu. Mereka yang mati itu sudah tidak punya kepentingan lagi.” Katanya.

2. Berdoa Sebelum Makan

Waktu Gus Dur menjabat Presiden RI, sekali waktu beliau bertemu dengan para romo (pastor) seluruh Keuskupan Agung Semarang. Dan, tak ketinggalan Gus Dur menyelipkan ceritanya. Ini pastor-pastor itu di sebuah negeri senang berburu binatang buas.

Sekali waktu, selesai misa hari Minggu, seorang pastor pergi ke hutan berburu binatang buas. Ia melihat seekor harimau. Langsung sang pastor mengokang senapannya dan menembak: “Dor – dor!” Wah, ternyata tembakannya meleset dan sang harimau balik mengejar sang pastor. Pastor segera berlari mengambil langkah seribu. Tiba-tiba si pastor berhadapan dengan jurang yang dalam. Si pastor langsung berhenti, berlutut, dan mengatupkan tangannya berdoa sebelum diterkam harimau. Berdoa sebelum mati.

Selesai berdoa, sang pastor terheran-heran karena ternyata ia masih hidup, tidak diterkam harimau. Waktu ia menoleh ke kanan, dilihatnya harimau itu berlutut di sampingnya dan berdoa sambil mengatupkan kedua kaki depannya, seperti orang Katolik mengatupkan kedua tangannya ketika sedang berdoa. Si pastor lalu bertanya kepada harimau, “Harimau, kamu kok tidak menerkam saya, malah malah kamu ikut-ikutan berdoa seperti saya. Mengapa?” Jawab harimau: “Ya, saya sedang berdoa. Berdoa sebelum makan!”


3. Kuli dan Kyai

Rombongan jamaah haji NU dari Tegal tiba di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah Arab Saudi. Langsung saja kuli-kuli dari Yaman berebutan untuk mengangkut barang-barang yang mereka bawa. Akibatnya, dua orang di antara kuli-kuli itu terlibat percekcokan serius dalam bahasa Arab.

Melihat itu, rombongan jamaah haji tersebut spontan merubung mereka, sambil berucap: Amin, Amin, Amin!
Gus Dur yang sedang berada di bandara itu menghampiri mereka: “Lho kenapa Anda berkerumun di sini?”
“Mereka terlihat sangat fasih berdoa, apalagi pakai serban, mereka itu pasti kyai.”

4. Obrolan Presiden

Saking udah bosannya keliling dunia, Gus Dur coba cari suasana di pesawat RI-01. Kali ini dia mengundang Presiden AS dan Perancis terbang bersama Gus Dur buat keliling dunia. Boleh dong, emangnya AS dan Perancis aja yg punya pesawat kepresidenan. Seperti biasa…

Setiap presiden selalu ingin memamerkan apa yang menjadi kebanggaan negerinya.Tidak lama presiden Amerika, Clinton mengeluarkan tangannya dan sesaat kemudian dia berkata: “Wah kita sedang berada di atas New York!”

“Itu.. patung Liberty kepegang!”, jawab Clinton dengan bangganya.
Ngga mau kalah presiden Perancis, Jacques Chirac, ikut menjulurkan tangannya keluar. “Tau nggak… kita sedang berada di atas kota Paris!”, katanya dengan sombongnya.

“Wah… kita sedang berada di atas Tanah Abang!!!”, teriak Gus Dur.
“Lho kok bisa tau sih?” tanya Clinton dan Chirac heran karena tahu Gus Dur itu kan nggak bisa ngeliat.

Karena disombongin sama Clinton dan Chirac, giliran Gus Dur yang menjulurkan tangannya keluar pesawat…
“Ini… jam tangan saya ilang…”, jawab Gus Dur kalem.

Presiden Indonesia: “Wah… kok bisa tau juga?”
“Itu… menara Eiffel kepegang!”, sahut presiden Perancis tersebut.
Presiden Indonesia (Gus Dur): “Lho kok bisa tau sih?”

5. Sate Babi

Suatu ketika Gus Dur dan ajudannya terlibat percakapan serius.
Ajudan: Gus, menurut Anda makanan apa yang haram?
Gus Dur: Babi
Ajudan: Yang lebih haram lagi
Gus Dur: Mmmm … babi mengandung babi!
Ajudan: Yang paling haram?
Gus Dur: Mmmm … nggg … babi mengandung babi tanpa tahu bapaknya dibuat sate babi!


6. Lagi Asyik Baca….

Bertahun-tahun, saya heran kenapa sih Indonesia “Tidak maju-maju” meski mereka sudah merdeka 60 tahun lebih. Tapi sekarang…saya sudah tahu alasannya. Berdasarkan data statistik:
Jumlah penduduk Indonesia ada 225 juta. 100 juta di antaranya adalah para pensiunan dan anak-anak. Jadi yang kerja cuma 125 juta.

Jumlah pelajar dan mahasiswa adalah 78 juta. Jadi tinggal 47 orang yang kerja. Yang kerja buat pemerintah pusat jadi pegawai negeri ada 31 juta, jadi tinggal 16 juta yang kerja (karena PNS cuma main catur dan baca koran).
Ada 4,5 juta yang jadi TNI dan Polisi. Jadi tinggal 11,5 juta yang kerja (karena TNI dan Polisi tidak ada kerjaan).

Ada lagi yang kerja di pemerintahan daerah dan departemen-departemen lain jumlahnya 10.500.000. Jadi sisanya tinggal 1.000.000. Yang sakit dan dirawat di Rumah Sakit di seluruh Indonesia ada 888.000. Jadi sisa 112.000 orang saja yang kerja.

Ada 111.998 orang yang di penjara. Jadi tinggal sisa dua orang saja yang masih bisa kerja. Siapa mereka??? Yaaa…tentu saja SAYA dan ANDA! Tapi kan sekarang ANDA lagi asyik baca buku sambil cekikak-cekikik sendiri. Jadi tinggal saya sendiri dong yang kerja!!!! Pantes aja kalau begini Indonesia tidak maju-maju……..!

7. Membuang Presiden

Apa akibatnya kalau seorang presiden terlampau lama memegang kekuasaan? Apalagi jika ditambah seringnya ia membohongi rakyatnya sendiri? Tentu rakyat akan protes dan marah, karena menganggap presidennya telah berkhianat.

Tapi ini cerita Gus Dur tentang seorang presiden Filipina yang punya tiga orang anak. Merasa ayah mereka adalah orang nomor satu di negerinya, anak-anal sang presiden pun lantas bertingkah neko-neko.

Anak kedua presiden ingin mencari popularitas dengan menyebarkan jutaan lembar uang kertas pecahan 5 peso dari sebuah pesawat terbang.
Kakaknya tak mau kalah pamor. Dengan pesawat yang digunakan adiknya sebelumnya, sang kakak menyebarkan jumlah uang jauh lebih banyak dari adiknya.

Anak perempuan presiden juga ingin populer, tapi tidak mau meniru cara yang dilakukan oleh kedua kakaknya. Karena bingung, ia pun bertanya kepada pilot pesawat yang ikut menyebarkan uang bersama dua kakaknya itu.

“Mas kapten, aku ingin populer seperti dua kakakku sebelumnya, tapi tindakan populer apa yang bisa membahagiakan rakyat?”
“Gampang sekali: Buang saja ayah nona dari atas pesawat.”

8. Becak, Dilarang Masuk

Saat menjadi Presiden, Gus Dur pernah bercerita kepada Menteri Pertahanan Mahfud MD tentang orang Madura yang katanya banyak akal dan cerdik.

Ceritanya ada seorang tukang becak asal Madura yang pernah dipergoki oleh polisi ketika melanggar rambu “Becak dilarang masuk”. Tukang becak itu masuk ke jalan yang ada rambu gambar becak disilang dengan garis hitam yang berarti jalan itu tidak boleh dimasuki becak.

“Apa kamu tidak melihat gambar itu? Itu kan gambar becak tak boleh masuk jalan ini,” bentak Pak polisi. “Oh saya melihat pak, tapi itu kan gambarnya becak kosong tidak ada pengemudinya. Becak saya kan ada yang mengemudi, tidak kosong berarti boleh masuk,” jawab si tukang becak.

“Bodoh, apa kamu tidak bisa baca? Di bawah gambar itukan ada tulisan bahwa becak dilarang masuk,” bentak Pak polisi lagi.

“Tidak pak, saya tidak bisa baca, kalau saya bisa membaca maka saya jadi polisi seperti sampeyan, bukan jadi tukang becak begini,” jawab si tukang becak sambil cengengesan.

9. Argometer Japan yang Cepat

Di luar Hotel Hilton, Gus Dur bersama sahabatnya yang seorang turis Jepang mau pergi ke Bandara. Mereka naik taksi di jalan, tiba-tiba saja ada mobil kencang banget, menyalip taksi tersebut. Dengan bangga si Jepang berteriak, “Aaaah Toyota made in Japan sangat cepat…!”

Enggak lama kemudian mobil lain nyalip juga taksi tersebut. Si Jepang teriak lagi “Aaaah Nissan made ini Japan sangat cepat.” Enggak lama kemudian lewat lagi satu mobil menyalip mobil tersebut dan si Jepang teriak lagi “Aaaah Mitsubishi made in Japan sangat cepat…!” Gus Dur dan sopir taksi itu merasa kesal melihat si Jepang ini bener-bener nasionalis.Kemudian, sesampainya di bandara, sopir taksi bilang ke si Jepang.

Supir taksi : “100 dolar please…”
Si Jepang : 100 dolars…?! Its not that far from the hotel…!!”
Gus Dur : “Aaaah… Argometer made ini Japan kan sangat cepat sekali!!”

10. Pikiran porno

Dalam suatu kesempatan Gus Dur mengeluarkan sebuah pernyataan yang sebenarnya tidak dimaksudkan untuk menghina. Namun dengan itu bagian dari upaya Gus Dur menyampaikan joke.”Alquran itu kita suci yang paling porno. Ya kan bener, di dalamnya ada kalimat menyusui. Berarti mengeluarkan tetek. Ya udah, cabul kan?”
Mungkin dengan hanya kalimat guyonan itu sebagian masih ada yang merasa diresahkan. Masa sih ulama yang terkenal wali kaya gitu? Maka, di lain waktu Gus Dur mengulangi penjelasannya dengan memilih bahasa yang lebih sopan.
“Maksudnya, itu ayat jadi porno kalau yang baca lagi punya pikiran yang ngeres. Kalau nggak, ya udah. Berarti beres.”
Masih nggak puas. Karenanya pertanyaan berikutnya segera menyusul. “Tapi Gus, Alquran kan bahasanya sopan?”
“Betul, juga bahasa di luar Alquran banyak yang sopan. Tapi, waktu teman saya naik bus, lihat orang lagi bunting. Terus dia mbatin kenapa bisa bunting? Mendadak ‘barangnya’ (alat kelaminnya) berdiri gara-gara pikirannya itu,” jawab Gus Dur.

Itulah beberapa cerita uang sempat diceritakan sendiri oleh beliau sendiri di masa hidupnya. Semoga bisa menghibur dan memberi manfaat pada anda sekalian.

Seni Musik dalam perspektif Islam

Oleh; Agus Khamid Baidlowi

(Personel D' Sukma Band &
Mahasiswa Al-Azhar Ushuludin Hadits)

Adalah musik, fan seni yang takkan pernah mati di telan waktu, akan tetapi dengan manfaat musik dapat menghidupkan waktu-waktu yang mati. Tak bisa di pungkiri Allah telah menciptakan manusia dengan berbagai macam bentuk, karakter, warna kulit, kemampuan, dan kecenderungan. Termasuk kecenderungan dalam hal seni musik. Bagi penggemar dunia seni musik, musik adalah sarana yang mampu memberikan banyak manfaat. Kelembutan dan kemerduan sebuah musik mampu membuat seseorang menemukan imajinasi yang hilang, mengusir kepenatan pikiran, menerbangkan impian dan angan-angan serta mampu mengembalikan memori indahnya suatu kenangan. Bahkan musik ternyata mampu menggugah selera dan melunakkan hati yang keras menuju petunjuk suci sang tuhan pemilik alam semesta ini.

Sejarah musik dalam Islam

Secara historis, telah maklum bahwasanya masyarakat Madinah pada abad ke-6 telah menggunakan rebana sebagai alat musik pengiring dalam acara penyambutaan atas kedatangan Baginda Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya yang hijrah dari Makkah. Masyarakat Madinah kala itu menyambut kedatangan Beliau dengan qasidah Thaala'al Badru yang diiringi dengan alat musik rebana, sebagai ungkapan rasa bahagia atas kehadiran seorang Rasul yang membawa ajaran mulia dan kabar gembira kedamaian bumi Madinah saat itu.

Kemudian alat musik rebana sempat digunakan sebagai sarana dakwah oleh para penyebar Islam. Dengan melantunkan syair-syair indah yang diiringi rebana, pesan-pesan mulia agama Islam mampu dikemas dan disajikan lewat sentuhan seni artistic musik Islami yang khas dan memukau hati. Hingga sekarang, seiring kemajuan zaman, maka berbagai alat musik baru yang lebih canggih pun muncul dan berkembang marak. Maka Islam sebagai agama yang penuh rahmah dan toleran, tidak akan pernah ketinggalan zaman, karena Islam adalah agama yang sholih likulli zaman wa makan. Substansi yang terkandung dalam ajaran Islam akan selalu mampu mengayomi perkembangan dan kemajuan zaman. Diantaranya didalam menyikapi seni musik yang akan selalu mewarnai kegiatan sehari-hari baik secara seremonial formal agama maupun hiburan.

Sejarah telah mencatat, bahwa Wali songo termasuk pelopor masuk dan tersebarnya agama Islam di Indonesia. Dengan sikap yang ramah dan penuh toleran, mereka mampu dengan mudah mengajak orang-orang yang pada saat itu mayoritas beragama Hindu menerima dan memeluk agama Islam. Dengan wasilah kesenian wayang dan musik gendingan yang diminati mayoritas masyarakat pada saat itu, mereka mampu mengubah substansi dari kebiasan yang jelek menjadi kebiasaan yang lebih bermakna dan membawa kebaikan. Begitu besar jasa Wali songo dan seni musik bagi negeri ini. sehingga sampai saat ini Indonesia dinobatkan menjadi negara terbesar pemeluk agama Islamnya di seluruh dunia ini.

Definisi dan hukum musik

Definisi musik tidak hanya terbatas meliputi alat-alat musik saja, akan tetapi lebih luas dan bahkan mencakup segala bentuk bunyi-bunyian dan suara. Penulis menukil pendapat seorang ahli bijak yang bergelar sahib al-samahah mendifinisikan musik dengan; segala jenis dan bentuk suara yang bisa dinikmati dan enak didengarkan oleh telinga. Dari sini penulis mengembangkan definisi tersebut hingga meliputi segala aspek, baik didalam hal ibadah maupun di luar ibadah, sebagai contoh ketika seseorang memiliki suara merdu dan fasih dalam membaca al-Qur'an, disana terdapat seni musik suara yang mampu menggugah hati, dan nikmat didengar oleh telinga sang pendengarnya sampe tak terasa menggoyangkan badan dan kepalanya disebabkan karena keindahan suara merdu tersebut. Begitupun alat-alat musik yang dengan indahnya di mainkan oleh ahlinya, maka akan mengeluarkan suara musik yang mampu membuat seseorang menemukan imajinasi yang hilang, mengusir kepenatan pikiran, menerbangkan impian dan angan-angan serta mampu mengembalikan memori indahnya suatu kenangan.

Maka, dari situ musik tak selamanya bisa di hukumi haram secara mutlak, ataupun halal secara mutlak, disana ada kesamaan hukum dengan buah anggur yang bisa menjadi halal ketika di makan dengan semestinya, begitupun bisa menjadi haram manakala anggur dibuat khamr (minuman keras) maka haram meminumnya. Begitupula sebuah musik, bilamana di gunakan untuk hal yang positif maka halal hukumnya, tapi bila musik digunakan sebagai penunjang untuk hal-hal negatif maka haram hukumnya.

-Imam al-Gazali dalam kitab Ihya’ Ulum Addin menukil sebuah kisah dari Mamsyad Addainuri pernah berkata: aku pernah mimpi bertemu Rasulullah SAW dan aku berkata, “wahai Rasulullah, apakah ada sesuatu yang engkau ingkari/tidak disetujui dari Sama’/nyanyian? Beliau bersabda, “saya tidak mengingkarinya, akan tetapi katakan kepada mereka agar nyanyian itu diawali dan diakhiri dengan bacaan al-Qur’an”.
-Syekh Habib Ali al-Jufri ketika ditanya pendapatnya mengenai hukum mendengarkan lagu yang diiringi musik, beliau berpendapat “tidak haram selamatidak mengandung kata-kata cabul yang dapat membangkitkan gairah seks”.
-Dalam Shahih Bukhari. Muslim dan Ibnu Majah terdapat sebuah hadits yang artinya kira-kira, (dari Sayyidatuna A’isyah r.a. ia berkata: Rasulullah s.a.w. pernah masuk dan menemukan bersamaku dua orang budak wanita sedang menyanyikan “lagu kemenangan suku Aws ketika mengalahkan suku Khazraj pada masa Jahiliyyah”. Maka Rasulullah berbaring di kasur. Kemudian masuklah Sayyiduna Abu Bakr r.a. dan beliau menghardikku seraya berkata, “seruling setan di rumah Rasulullah!?”. Maka Rasulullah s.a.w. berkata, “biarkan mereka!”. Ketika Sayyiduna Abu Bakr memperhatikan yang lain, Sayyidatuna A’isyah memberi isyarat agar kedua budak wanita itu keluar).
-Syekh Abul-Mawahib Attunisi dalam kitab Farahul-Asma’ Birukhashissama’ berkata, “sebagian sahabat dan tabiin pernah mendengarkan petikan gambus”.
-Annasa’I dan al-Hakim meriwayatkan dari Ãmir bin Sa’d berkata: aku menemui Qurzhah Bin Ka’b dan Abu Mas’ud al-Anshari pada acara perkawinan, dan aku melihat beberapa budak wanita sedang bernyanyi. Maka aku berkata: “wahai kedua sahabat Rasulullah, apakah penduduk Badar melakukan ini di tempat kalian?!”. Maka kedua-duanya berkata, “duduklah, kalau mau, dengarkan bersama kami, kalau tidak mau, maka pergilah, sesungguhnya kita telah diberikan keringanan untuk bermain “Lahwun” dalam acara pesta perkawinan.
-Abu Manshur al-Bagdadi Assyafi’I bercerita bahwa Abdullah Bin Ja’far tidak mencela ataupun membenci nyanyian. Bahkan ia sendiri mendengar nyanyian budak-budak wanitanya yang mengiringi petikan senar alat musiknya sendiri. Dan hal itu terjadi pada masa khalifah Sayyiduna Ali r.a.
-Al-'Allamah al-Adib Abu Umar al-Andalusi meriwayatkan bahwasanya Abdullah Bin Umar pernah menemui Ibnu Ja’far dan melihat seorang budak wanita sedang memegang alat musik “gambus”, kemudian ia berkata, “bagaimana menurutmu?”. Maka Ibnu Umar berkata, “tidak apa-apa”.
-Mawardi bercerita bahwa Mu’awiyah dan Amru Bin Ash pernah mendengar petikan gambus di rumah Ibnu Ja’far.
-Abu al-Abbas dan Abu al-Faraj al-Ashbahani bercerita bahwa Hassan Bin Tsabit pernah mendengar syiir karangannya sendiri sedang dilantunkan oleh Azzah Al-Maila’ menggunakan kecapi.
-Al-Adfawi bercerita bahwa Umar Bin Abdul-Aziz sebelum menjadi khalifah, sering mendengarkan nyanyian dari budak-budak wanitanya.

Penutup
Begitulah beberapa pendapat orang-orang saleh tentang seni musik, yang senantiasa mengilhami penulis antusias bermain musik dan berbagi ilmu ini, sekiranya dapat bermanfaat dan mampu meningkatkan motifasi kepada semua teman-teman di seantero dunia, untuk tidak perlu ragu-ragu lagi dalam mengembangkan bakat seni musiknya, Insya-Allah dengan niat dan tujuan yang baik maka Islam dengan substansi ajaran yang penuh rahmah dan toleran, telah membuka pintu selebar-lebarnya untuk mengayomi bakat-bakat seni setiap manusia. Selama hal itu tidak disalahgunakan untuk mencelakai diri sendiri ataupun orang lain, baik dalam kejelekan maksiat ataupun hal-hal negative lainnya, maka Islam tidak melarangnya. Maju dan jayalah kesenian musik masisir dan musik tanah air. Mudah-mudahan semua pecinta musik bisa menjadi seniman yang mampu menerapkan nilai-nilai luhur ajaran Islam yang telah diejawantahkan oleh wali songo kita, sehingga dapat membawa pencerahan masyarakat tanah nusantara Indonesia khususnya dan dunia umumnya.

Nb: Artikel ini telah dimuat di buletin "Makar" masisir Cairo, edisi bulan Juli 2009.

Popular Posts