"Selamat Datang Di Blognya Gus Mied Baidlowi"
Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Senandung Cinta "Mutiara Kata"

Oleh: Gus Mied Baidlowi
(Mahasiswa Ushuluddin Hadits al-Azhar Cairo)



#Karena-Mu semuanya menjadi indah...
Dunia yang gelap berubah menjadi cerah...
Zaman yang jahiliyah menjadi penuh rahmah...
Setiap yang ada berharap dari-Mu berkah...
Karena-Mu lah hidup menjadi terarah...
Syukur kami pada-mu takkan pernah lelah...
Happy Mawlid to Baginda Sayyidina Rasulillah...
Semoga cinta kami pada-Mu senantiasa bertambah...

(Happy Mawlid to Sayidina Rasulillah).

#Bukanlah dg pujian pujian keagungan, bertambah kemulmulyaan-mu...
Tapi dengan kemulyaan-mu lah bertambah mulya dan agung pujian-pujian itu...
Karena tak ada seorangpun yang mampu memuji-mu...
Kecuali sang maha agung pemilik jasad dan ruh-mu...
Engkaulah makhluk Tuhan nomer satu...

"Junjungan Semesta Alam Manusia Agung Baginda Nabi"
(Gami' Permai 25/5/2011).

#Melihat-mu bagaikan melihat sinar yang tak bertepi...
Memandang-mu menentramkan jiwa dan hati nurani...
Menyebut-mu senantiasa menggetarkan hati...
Rahmat dan berkah-mu senantiasa kami nanti...
Dengan izin Allah sang Maha Suci pemilik langit dan bumi...

(Senandung cinta tuk Pujaan Hati ya Ummy, Baginda Nabi wa ahli baitihi).

#Tiada kasih sayang setulus dan semulya dari-mu oh "UmmY, UmmY, UmmY"...
Pancaran cahaya-mu & naungan ridlo-mu senantiasa menyertai langkah kami...
Syukur dan bakti kami takkan pernah berhenti sampai di sini....
Doakanlah kami agar senantiasa menjadi murid dan anak-anak sejati...

(Alfu syukr, tuk Anugerah Terindah dari Sang Maha Suci).

#Dalam terik panasnya matahari....
Terdapat energi jalalnya sang Maha Suci...
Dalam sinar sejuknya rembulan di malam hari...
Terdapat sinar jamal kekasih-Nya baginda Nabi...

("Law laa ka law laa ka, ma kholaqtu al-aflak", Ya hadrotan-Nabi saw).

#(Habis Gelap Terbitlah Terang... el-Gami' 2011)

Engkau adalah pintu yang suci...
Mencintai-mu laksana ibadah sunnah yang tak henti-henti...
Mengikutimu selamanya takkan merugi...
Menziarahi-mu senantiasa mengais berkah dan rahmat ilahi...
Engkaulah kekasih ilahi cucu baginda Nabi...

"Ahabballahu man ahabba Husainan": al-Hadits al-Nabawi
( Menyambut Ultah sayidina Al-Husein RA, 1-4-2011).

#Bukan mata kepala yang menilai tentang keindahan-mu...
Tapi keindahan-mu lah yang menerangi pandangan mata ini...
Karena engkaulah sang keindahan hakiki nan suci...
Menerangi mata hati hamba-hamba pecinta-mu sejati...

(Memperingati Mawlid sidi Ali Zaenal Abidin Cicit baginda Nabi 24/5/2011 M.)

#Cahaya terang-mu sangat terang sekali...
Menerangi hati para pecinta kekasih ilahi...
Keindahan malam ini telah menjadi saksi...
Happy Mawlid to Sayidi Ahmad Rifa'i...

(Syeilillah ya Sayidi....) 15/5/2011

#Karena-nya keharmonisan tercipta...
Karena-nya kekompakan terbina...
Karena-nya saling asih dan sayang...
Karena-nya satu hati dan keinginan...

"Waja'alna likulli syai'in sababa"

(Syukur yang tak terhingga tuk maha guru).

#Dalam gelap hati seakan malam...
Gelap gulita buta penuh waham...
Kacau-balau kering kerontang tanpa salam...
Kalbu muram suram penuh guram...

Saat terbit sinar surya-Nya yang terang benderang...
Begitu kuat hingga menembus bayang-bayang...
Gulita wahampun seketika jauh menghilang...
Terjelma indah dalam akhlak suci hamba penyayang...
(Bidayah Lailatul Qodr Insan Ilahy).

#Tak selamanya yang indah dilihat oleh mata, itu enak dirasa...
Tapi enaknya rasa nikmat, justru akan memejamkan mata...
Muroqobah cinta, melatih rasa...

"Man dzaqo 'Arof"
(Markaz Gami' Nasr City 23/5/2011)



NB: Kata-kata mutiara ini telah dipublikasikan penulis di facebooknya gus_mied@yahoo.com /
memed_nur@yahoo.com

Untaian Kata Mutiara Kehidupan

Oleh: Gus Mied Baidlowi
(Mahasiswa Ushuluddin Hadits al-Azhar Cairo)
# Sucikan niat...
bulatkan tekat...
kuatkan semangat...
pegang prinsip kuat-kuat...
mudah-mudahan tamat...
berpredikat selamat dunia dan akhirat...

# Seberat apapun masalah…
jangan pernah kau menyerah…
karena setiap masalah pasti dapat dipecah…
dan setiap yang terpecah, di dalamnya tersimpan hikmah…
dan disetiap hikmah terkandung rahmat dan berkah…
anugerah indah dari sang maha pemurah…

# Jangan terburu-buru dengan apa yang belum kau tahu...
jangan berburuk sangka dengan do'a yg belum di kabulkan Tuhan-mu...
sebaiknya jalani proses kehidupan terlebih duhulu...
pada saatnya kau pasti kan tahu...
bahwa ternyata Tuhan sangat menyayangi dan mengasihi-mu...
dengan sebaik-baik kasih sayang-Nya untuk-mu...

# Walau hidup hanya sebentar...
tapi ribuan masalah slalu bertebar...
jangan pernah kau merasa gentar...
hadapilah dg tegar...
yakinlah, impianmu takkan pudar...

# Hari cerah tuk jiwa yg bergairah...
pengobat rasa gerah dan lelah...
penghilang hati yg bersusah payah...
ayo bersemangatlah...
maju terus dan pantang menyerah...

# Samudera ampunan-Mu sangatlah luas tak terhingga...
kebijaksanaan dan maha pemurah-Mu sungguh tak terkira...
keadilan dan maha perkasa-Mu sungguh luar biasa...
Semoga waktu dan umur yg tersisa...
dapat ku persembahkan sebaik-baiknya...
menjadi hamba-Mu yg setia nan kau cinta...

# Segala keluh kesah yang ada...
setiap kisah sedih yang menimpa...
pasti terkandung makna dan hikmah di dalamnya...
Jangan gundah dan putus asa...
karena itu salah satu cara Tuhan tuk memberikan anugrah-Nya...
agar kita lebih bisa mensyukurinya...
ketahuilah, terkadang manusia dapat menghargai nikmat sehat-Nya...
setelah sakit menerpa dirinya...

# Semuanya kan pergi...
menghilang satu demi satu silih berganti...
ada yang lahir dan ada yang mati...
ada yang suka dan ada yang benci...
semuanya tidak ada yg kekal nan abadi...
kecuali mereka pecinta sejati...
bergelar sang kekasih ilahi robbi...

# Hidup memang panjang...
waktunya tak pernah usang...
isinya hanya perang dan perang...
melawan nafsu kotor yg tak pernah tenang...
jangan sampai hidupmu malang duhai kawan...
karena kalah berjuang...
ayo, perbaharui niat tuk berlomba meraih menang...

# Ketika kisah hidup ini harus berproses...
maka berproseslah dengan penuh keikhlasan...
hanya rasa ikhlaslah yang dapat menyembuhkan semua penyakit berkepanjangan...
ikhlasmu senantiasa menyelamatkan duniamu...

# Setiap yang bernyawa...
pasti akan merasakan mati...
kematian bukan akhir dari segalanya...
bagi mereka yang menjemputnya dengan senyuman...
itulah awal dari kebahagiaan yang menawan...

# Terkadang dunia seseorang itu kejam...
tak kenal kasih dan sayang...
emosi dan ego yang selalu di depankan...
kepuasan diri yang dibanggakan...
dimanakah hati nuraninya yang bersinar terang...
tidak taukah, setiap keangkuhan...
pasti membawa penyesalan...
tunggu saja, waktu itu pasti kan datang...
Semoga cepat tersadarkan...

# Hari demi hari telah kulewati...
tak terasa seperempat abat telah kunikmati...
berapa banyak dosa yang telah kukantongi...
adakah sisa umur ini dapat ku ganti...
ya rabbi, apapun yang terjadi...
hanya ridlo dan rahmat-Mu yang kucari...
semoga Engkau senantiasa memberkati...

# Hanya keberanian untuk selalu bahagia...
kita tidak akan khawatir dengan masa depan...
dan tidak sedih dengan masa silam...

# Lika-liku hidup bak peta kehidupan...
ke kiri atau ke kanan adalah sebuah pilihan...
sedih atau bahagia tergantung bagaimana sikap menghadapi segala ujian dan cobaan...
kemenangan atau kekalahan merupakan hasil yg di tawarkan...
keikhlasan adalah niat yg harus ditanamkan...
mudah-mudahan ridlo Allah senantiasa menjadi tujuan...

# Kebahagiaan bukan terletak pada bagaimana orang melihatmu...
tapi kebahagiaan ada pada hatimu...
Kebahagiaan adalah realita...
bukan sandiwara...

# Pesan-Mu di sepucuk surat... terasa amat berat...
tak tau makna tersirat...
karena hati nian berkarat...
(Kala hati gelap).

# Petikan-petikan senar guitar...
menerbangkan intuisi dan rasionalku kedalam mimpi indah....
begitu juga petikan-petikan hikmah dari kehidupan...
selalu membawaku tersenyum....
Senyuman cermin dari indahnya kehidupan...

# Di kala kebingungan melanda jiwa…
terasa berat tuk memecahkannya…
janganlah gegabah dan emosi...
berbisiklah pada diri sendiri...
tanyakan pada hati nurani...
kiranya, muncul sikap bijak dari sosok sang jati diri.....

# Ketika kisah ini harus berproses…
maka berproseslah dengan penuh keikhlasan…
hanya rasa ikhlaslah yang dapat menyembuhkan semua penyakit dunia ini....
Ikhlasmu menyelamatkan duniamu.....

# Setiap yang hidup, pasti punya masalah…
dan setiap masalah pasti ada jalan keluar…
dan setiap jalan keluar butuh kesabaran…
dan setiap kesabaran butuh usaha, dan setiap usaha pasti tidak akan sia-sia...

# Setiap yang bernyawa, pasti akan merasakan mati…
dan mati bukan merupakan akhir dari segalanya…
bagi mereka yang menjemputnya dengan senyuman...
itulah awal dari kebahagiaan yang hakiki nan kekal...

# Setiap kejadian pasti ada sebab…
Setiap keputusan pasti punya konsekuensi…
setiap komitment harus ditepati...
dan bila diingkari hukum karma selalu menanti...
" Tidak mau disakiti, jangan menyakiti “…

# Hidup adalah pilihan…
rukun dan damai sebuah impian…
apapun masalahnya, diam dan menjauh bukan suatu jalan yang dibenarkan…
bersabarlah dalam setiap kesulitan...
karena dibalik setiap kesulitan baginya dua kemudahan...
selesaiakan setiap masalah dengan bijak nan hati rupawan…
arti sebuah persaudaraan melebihi harta jutawan…
Duhai kawan yang berhati budiman...

# Ketika semuanya harus berakhir…
maka akhirilah dengan indah...
akhirilah masa ini dengan khusnul khotimah...
karena pada hakikatnya, bukanlah masa awal yang menetukan…
tapi akhirlah yang menjadi penentuan…



NB: Kata-kata mutiara ini telah dipublikasikan penulis di facebooknya gus_mied@yahoo.com /
memed_nur@yahoo.com

Perjalan Ibadah Hajiku Dari Mesir Tahun 2008

Oleh: Gus Mied Baidlowi
Mahasiswa Al-Azhar University Cairo


Waktu Keberangkatan Ibadah Hajiku

Setelah bertahun-tahun menunggu, akhirnya panggilan itupun datang menghampiriku. Panggilan suci untuk beribadah haji ke Baitullah Mekkah dan berziarah ke Raudloh Syarifah baginda Rasulullah saw, di Madinah. Rasa bahagia yang mendalam tercermin di wajahku, hingga tak terasa air mata haru mewarnai pemandangan wajahku. Hari itu hari jum’at pukul 22.00 WK (Waktu Kairo) telah berjajar lima bus eksekutif, di sampingnya diriku telah berdiri dan juga seluruh mahasiswa dan mahasiswi jamaah haji yang berjumlah sekitar dua ratusan orang. Begitupun ratusan teman-teman yang ikut mengantarkan keberangkatan kami telah memenuhi pelataran Suq Sayarah (nama sebuah tempat lapang yang di gunakan untuk jual beli mobil di salah satu kota Kairo). Lantunan doa dan ucapan pamitan yang bergemuruh dari para pengantar dan calon jamaah haji telah membisingi suasana saat itu. Setelah para calon jamaah haji berpamitan, akhirnya kami satu persatu memasuki bus-bus yang telah dipersiapkan tersebut. Tak lama kemudian bus satu persatu berjalan pelan menuju pelabuhan Safaga.

Karena perjalanannya di waktu malam hari, kami semua tertidur pulas dalam perjalanan tersebut hingga tak terasa pukul 04.30 WK, dan ternyata bus yang kami naiki telah berhenti di depan pelabuhan Safaga. Setelah menunggu sekitar tiga puluh menit, azan sholat Shubuhpun berkumandang. Lalu kami segera mengambil air wudlu dan menuanaikan ibadah sholat berjama’ah di samping kendaraan bus kami.

Selidik demi selidik, setelah bertanya kepada penjaga pintu pelabuhan, ternyata pelabuhan Safaga dibuka mulai pukul 14.00 WK. Akhirnya kamipun menunggu sambil menikmati makanan yang kami bawa di sekitar pelabuhan dan merapikan segala persiapan kami. Setelah semuanya siap dan waktupun menunjukkan pukul 13.30 WK, kami segera bergegas memasuki pelabuhan yang sudah ngantri ratusan orang di depan pintu masuknya. Setelah di buka kamipun masuk satu persatu dengan diperiksa tas koper dan semua barang-barang bawaan kami.

Setelah melewati urusan pemeriksaan kami selesaikan, maka kami segera naik ke kapal satu persatu. Setelah rombongan kami naik kapal semuanya, di dalam kapal ternyata tidak hanya kami saja, melainkan banyak juga orang Mesir dan juga orang asing lainnya yang berangkat haji dari Mesir dengan jalur kapal laut.

Waktu menunjukka jam 20.00 WK, suara jangkar-jangkar kapal yang dilepaskan terdengar keras membisingi suasana di kapal saat itu, sebagai tanda bahwa kapal siap bergerak menuju pelabuhan Jeddah Saudi Arabia. Tak lama kemudian, ku tengok jendela kapal, ternyata kapal sudah berjalan dengan pelan menjauh dari tepi pelabuhan Safaga.

Perjalan dari pelabuhan Safaga menuju pelabuhan Jeddah membutuhkan waktu sekitar 37 jam atau sekitar satu hari dua malam. Dalam perjalanan menuju Jeddah, kami menikmati pemandangan Laut Merah yang begitu indah dengan udara yang cukup dingin. Setelah seharian kami di kapal, waktu menunjukkan pukul 02.00 WK, tiba-tiba terdengar suara dari tempat informasi: “Para penumpang kapal yang budiman, kita telah memasuki miqot haji Juhfah”. Informasi itu menandakan bahwa kami harus segera bergegas mengganti pakaian dengan kain ihram, maka kamipun dengan segera berganti pakaian.

Setelah waktu menunjukkan 09.00 WS (Waktu Saudi), tiba-tiba terdengar suara jangkar-jangkar dijatuhkan ke laut dan terasa getaran getaran keras gesekan kapal dengan batas tepi pelabuhan Jeddah. Setelah ku tengok ke jendela ternyata kapal telah berhenti dan menepi, berarti menandakan kami telah sampai di pelabuhan Jeddah. Kami segera bergegas turun dari kapal, maka kami jumpai berderet-deret bus telah siap untuk mengantarkan kami ke tempat imigrasi pelabuhan guna pemeriksaan paspor dan mengisi formulir entry sebagai tanda resmi izin memasuki Negara Kingdom Saudi Arabia. Setelah segala urusan-urusannya selesai, kami segera diantarkan menuju tempat peristirahatan bagi para jemaah haji yang diberi nama “Madinatul Hujjaj”. Kami istirahat dan makan siang di sana hingga pukul 17.00 WK. Setelah bus-bus pengantar jemaah haji menuju ke Mekkah telah siap berangkat, kami melanjutkan perjalanan menuju Mekkah. Tak terasa sekitar 5 jam perjalanan telah kami lalui, maka sampailah kami di tanah suci kota Mekkah. Kami yang berjumlah lima bus ini, oleh broker haji kami telah di sewakan penginapan yang sangat sederhana di daerah Misfalah sekitar 1 km dari masjidil Haram.


Saat Tiba di Tanah Suci Mekkah

Perlu diketahui ibadah haji yang kami lakukan adalah haji Tamattu’; yaitu mendahulukan pelaksanaan ibadah umrah dari ibadah haji. Disamping itu ibadah haji tamattu' wajib membayar dam (denda) baik berupa menyembelih seekor kambing atau berpuasa 10 hari, 3 hari di Mekkah dan 7 hari setelah pulang ke kampung halamannya. Jadi, Tanpa kenal lelah kami dengan segera bergegas mempersiapkan diri untuk melakukan thawaf Qudum plus umrah. Pertama kali diriku memasuki Masjidil Haram, saya sangat tertegun karena melihat jutaan umat Islam sedang duduk berdesak-desakkan menunggu sholat Shubuh. Tepat kakiku menginjak alas masjidil Haram yang terbuat dari batu Marmer, suara azan Shubuh berkumandang dengan indah sebagaimana kita sering mendengar azan Masjidil Haram di stasiun televisi. Sungguh sangat indah dan berkesan, saat pertama kali melihat keagungan Masjidil Haram yang selalu kita lihat di photo-photo atau disiaran televisi. Dalam Hati ku berkata: “Akhirnya aku bisa melihat Ka’bah dengan nyata di depan mata. Subhanallah”.

Setelah menunaikan sholat Shubuh berjamaah, aku langsung berdiri berjalan menuju tempat thawaf. Aku mulai thawaf pertama kaliku ini dengan pelan-pelan sambil menikmati pemandangan keagungan Ka'bah di depan mata. Sekitar satu jam, akhirnya aku telah menyelesaikan tawaf tujuh putaran dengan lancar, lalu kulanjutkan sa’i tujuh kali putaran juga dan diakhiri dengan tahallul (mencukur sebagian rambut kepala sebagai rukun akhir dari ibadah umrah). Setelah menyelesaikan umrah dengan baik, segera ku bergegas menuju tempat penginapan untuk mengganti ihram dengan pakaian biasa. Kemudian badan ku istirahatkan karena kecapaian seharian belum tidur sama sekali.

Memasuki hari yang kedua di Mekkah, aku isi dengan beribadah umrah. Hari itu al-hamdulillah aku bisa mengerjakan ibadah umrah sebanyak dua kali. Setelah dua hari aku berada di penginapan mahasiswa jamaah haji dari Mesir, sesuai dengan perintah ibundaku untuk segera menemui KBIH rombongan dari Pekalongan. Sebab di situ ada dua orang budheku yang kebetulan bersama-sama menunaikan ibadah haji. Akhirnya aku segera bergegas mencari tau alamat KBIH dari Pekalongan. Dan tak lama kemudian aku sampai pada alamat tersebut setelah di antar oleh sebuah taxi. Setelah memasuki tempat pemondokan jamaah haji dari Pekalongan yang disebut dengan maktab, aku segera menemui pembimbing KBIH tersebut meminta izin supaya aku bisa ikut tinggal dan menetap di maktab tersebut. Al-hamdulillah akupun segera mengantongi izin tersebut karena kebetulan yang menjadi pembimbing adalah guruku sendiri yang pernah mengajar mata pelajaran B. Arab dahulu kala waktu sekolah di Madrasah Aliyah Simbang Kulon Pekalongan. Beliau bernama KH. Kholil Muhdlor Lc, seorang lulusan sarjana Timur Tengah dari Universitas di Madinah. Akhirnya tak lama kemudian akupun segera menjumpai kedua budheku tersebut, dan nampaknya mereka sudah menungguku sejak lama, sebab mereka datang lebih awal sekitar 2 minggu dibanding jamaah haji kami. Setelah kudekatkan diriku di depan budheku, beliau sangat kaget dan akupun langsung dipeluknya dengan erat, mencurahkan rasa kangen yang telah bertahun-tahun, karena sudah 4 tahun aku tidak ketemu mereka. Pokonya hari itu hari yang sangat membahagiakan dan mengharukan bagi-ku.

Aku sengaja memisahkan diri dari mahasiswa jamaah haji dari Mesir dan memilih tinggal bersama jemaah haji dari KBIH Pekalongan, sebab penginapan yang kami tempati sangat kecil, tidak memadahi jumlah kami yang sangat banyak, jadi sangat tidak nyaman sekali bila aku tetap tinggal di situ. Sebagian barang-barang milikku, aku tinggal di penginapan itu, dan hanya tas punggung dengan beberapa pakaian, ku bawa ke maktab KBIH dari Pekalongan tersebut.

Hari demi hari ku lewati dengan para jamaah haji dari kota asalku Pekalongan tercinta. Kami saling bercerita satu sama lainnya, mengenai perkembangan terbaru kota Pekalongan dan tempat belajarku Negeri Mesir. Dan sering jamaah haji yang mengajakku jalan-jalan berbelanja untuk menawarkan sejumlah barang atau oleh-oleh yang ingin mereka beli, karena aku dianggap bisa berbahasa arab dengan baik. Dengan senang hati kupenuhi ajakan mereka, karena mereka semua telah aku anggap seperti sudara-ku sendiri.


Saat Menuanaikan Ibadah Haji Telah Tiba

Setelah beberapa hari aku tinggal di KBIH Pekalongan, tibalah waktu haji yang kita tunggu-tunggu yaitu tanggal tanggal 9 Dzulhijjah menandai tibanya hari Arafah untuk melaksanakan Wukuf yang merupakan salah satu Rukun Haji yang tidak dapat ditinggalkan ataupun digantikan/badal. Apabila jamaah haji tidak dapat melaksanakan Wukuf, maka hajinya tidak sah dan batal hajinya. Di Hari Arafah ini, sejak matahari terbit hingga terbenamnya matahari, merupakan saat-saat yang sangat dinanti-nantikan oleh seluruh Jemaah Haji bahkan oleh seluruh umat muslim, karena pada saat Wukuf ini Allah menjadikannya waktu yang mustajab untuk berdoa dan minta taubat. Oleh karenanya pada saat Wukuf ini, Jemaah Haji hendaknya mengisi waktunya dengan memperbanyak Talbiah, Dzikir, Istiqfar, Takbir, Tahlil dan Tahmid serta berdoa untuk dirinya, anak, orang tua, saudara dan kerabat muslim lainnya.


Sebagaimana tuntunan Rasulullah Muhammad SAW, setibanya waktu Dzuhur, Imam memimpin Sholat Dzuhur dan Ashar di jama’ takdim qosor dengan 1 kali Adzan dan 2 kali Qomat lalu dilanjutkan dengan Khutbah Arafah dan berdoa di dalam tenda. Dan al-hamdulillah hari itu semuanya berjalan dengan lancar tanpa ada halangan apapun.

Datangnya waktu magrib menandakan selesainya waktu Wujuf. Setelah melaksanakan Sholat Maghrib dan Isya dengan jama’ takdim qosor , kamipun bersiap-siap di tenda menunggu panggilan menuju kendaraan bus untuk meninggalkan Arafah menuju Muzdalifah sebelum tengah malam. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya kamipun dipanggil menuju ke tempat kendaraan dan pukul 21.00 WA (waktu Arab Saudi) kami sampai di Muzdalifah. Dalam perjalanan menuju Muzdalifah kami melihat banyak jamaah haji dari luar, mereka berbondong-bondong berjalan kaki dari Arafah menuju Muzdalifah, padahal jaraknya cukup jauh, termasuk mahasiswa jamaah haji dari Mesir merekapun berjalan kaki beramai-ramai, karena memang tidak ada pelayanan transportasi khusus untuk mereka. Ketika kami turun dari bus, sekali lagi kami melihat pemandangan yang indah, di tanah Muzdalifah yang begitu luas telah dipadati oleh jamaah haji yang berpakaian putih-putih semuanya. Dengan tertibnya para jamaah haji menempati tanah lapang sesuai dengan saat kedatangan mereka, jadi yang datang lebih awal ditempatkan di daerah yang paling depan, begitu seterusnya sehingga jemaah dengan tertibnya mengatur posisinya memasuki tanah lapang tersebut untuk Mabit di Muzdhalifah. Sambil menikmati saat mabit di Muzdalifah kamipun segera mempersiapkan mengambil batu kerikil sebanyak 63 buah untuk digunakan Melontar Jumrah esok harinya.

Setelah mabit di Muzdalifah selesai, kami pun segera bergegas menuju ke Mina guna melempar Jumroh Aqobah. Hari itu tepat tanggal 10 Dzulhijah yaitu hari raya Idul Adha, Setelah sampai di Mina kami mendapatkan tempat perkemahan khusus, sesuai dengan kloter dan daerahnya masing-masing. Setelah meletakkan barang-barang tas dan sebagainya, kami segera bergegas bersiap-siap menuju Jamarat untuk melaksanakan Jumrah Aqabah. Kami serombongan berjalan kaki melewati terowongan Mina menuju Jamarat, jarak dari Mina hingga Jamarat sekitar 3.5 km. Sepanjang perjalanan menuju Jamarat tidak henti-hentinya para jemaah mengagungkan asma Allah dengan terus bertalbiah sehingga tanpa terasa kamipun sudah berada di Jamrah Aqabah. Sekalipun saat itu banyak jemaah haji yang berada di tempat ini, namun Alhamdulillah kami dapat leluasa melontarkan kerikil. Setiap kali akan melontarkan kerikil, kami mengucapkan:¨Bismillahi Allah Akbar¨ kami lontarkan kerikil satu persatu ke tembok yang datar dengan ukuran panjang 15 m dan tinggi 5 m yang berada dalam sumur yang melingkar hingga tujuh kali.

Setelah selesai melontar Jamrah Aqabah, kamipun langsung Tahallul yaitu menggunting sebagian rambut kepala kemudian melanjutkan perjalanan kaki menuju ke tenda di Mina. Sesampainya di tenda, kamipun sudah dapat melepaskan pakaian Ihram yang sudah kami pakai selama dua hari dua malam. Setelah menginap tiga hari tiga malam di Mina, akhirnya kita kembali menuju Jamarat untuk melempar jumroh Nafar Tsani dengan tujuan memudahkan dan menghemat tenaga jamaah haji.

Setelah selesai mengerjakan rukun haji berupa melempar jumroh dan mabit di Mina, kami seromboongan segera bergegas menuju Maktab kami di Mekkah yang berada di Ka’kiyah (nama sebuah daerah di Mekkah yang jaraknya sekitar 10 km dari masjidil Haram).

Setelah sempat beristirahat di maktab, kamipun ingin segera menyelesaikan semua rukun haji yang kurang, yaitu thawaf Ifadlah. Setelah mengerjakan thawaf 7 kali putaran, sa’i 7 kali putaran dan di akhiri dengan Tahallul, maka sempurnalah ibadah haji kami.

Waktu yang tersisa di Mekkah dimanfaatkan oleh jamaah haji untuk menuanaikan ibadah Umrah semampunya. Ada yang dalam seharinya beribadah umroh hingga 3 kali dan sebagainya hingga datang waktunya untuk meninggalkan Mekkah menuju Madinah.

Beberapa cerita menarik waktu haji di Mekkah yang sempat saya alami dan saksikan, diantaranya;

1. Ketika kami berada di Mina, ada seorang bapak-bapak namanya pak Suyuti, dia berangkat haji bersama istrinya. Dalam kehidupan sehari-harinya di Kota Pekalongan pak Suyuti ini sehat-sehat saja, tidak mengalami gangguan ingatan. Tapi ketika beliau berada di Mekkah tiba-tiba mengalami gangguan ingatan. Beliau sering tidak sadar bahwa dia sedang beribadah haji. Sehingga ketika kami sampai di Mina tiba-tiba beliau menghilang selama 2 hari. Kami dan para petugas pelayanan haji sudah mencari kemana-mana, tapi tidak menemukannya. Tiba-tiba setelah 2 hari menghilang, beliau kembali dengan sendirinya ke tenda kami, kami semua bengong dan heran, lantas kami bertanya kepadanya; “kemana saja pak Suyuti selama 2 hari?”. Lalu beliau menjawab: “ Lha wong saya itu silaturahmi diundang rekan kerja saya di sebelah sana, ada hajatan anaknya menikah”. Lantas kami semua yang tadinya ingin memarahinya, karena menghilang 2 hari tanpa ada kabar, setelah mendengar jawannya, kami semua tertawa terbahak-bahak dan menyangkal jawabannya dengan berkata :” mana ada orang ngadain hajatan nikahan di sini pak”. Ha ha ha ha, suara gemuruh tawa para jamah haji yang menyaksikan keanehan pada pa Suyuti.

2. Setelah pulang dari Mina, saya mendapatkan tugas khusus untuk mengawal dan menemani pak Suyuti menunaikan thawaf Ifadlah, dikarenakan Pembimbing haji khawatir dengan kondisinya yang aneh. Setelah saya antar dia menuju masjidil haram tiba-tiba beliau bertanya kepada ku:” Dik Agus, Ini itu pasar mana ya, kok ramai banget?” Saya langsung tertawa terbahak-bahak dalam hati, seraya menjawab: “Pak Suyuti, ini itu bukan pasar pak, tapi ini adalah masjidil Haram”. Lalu beliau menyahuti jawabanku : “Oh , pantesan ramai banget ya dek?”. Ha ha ha. Setelah selesai saya temani beliau melaksanakan thawaf dan sa’I, lalu tiba-tiba beliau menanyakan pertanyaan aneh lagi: “ Dik Agus, kapan kita pulang ke Pekalongan, dan kita pulangnya naik apa?”. Saya pun tak kuasa menahan tawa atas pertanyaannya, seraya menjawab dengan sopan: “ Pak, Kita ini sedang beribadah haji, jadi pulangnya ke Pekalongan nanti setelah ibadahnya selesai semua.” Ha ha ha….Sampai-sampai beliau tidak ingat bahwa istrinya sedang haji bersamanya di Mekkah.

3. Waktu rombongan jamaah haji ingin menunaikan Umrah sunnah bersama-sama, mereka menunjuk saya untuk menjadi guide. Tawaran itupun dengan senang hati saya terima, dan saya laksanakan sebaik-baiknya. Setelah kami semua mengambil miqot di Tan’im, lalu kami tiba di Masjidil Haram. Saya mendapatkan tugas untuk menemani bu Nana, karena hanya bu Nana lah yang tidak ada pasangannya, karena suaminya tidak ikut haji bersamanya. Jadi beliau haji sendirian, sedangkan kebanyakan jamaah haji disertai suaminya masing-masing. Setelah kami semua siap untuk thawaf, segera kita mulai putaran thawaf pertama dengan bareng-bareng, tapi setelah thawaf kedua dan ketiga tiba-tiba rombongan pun terpisah satu demi satu. Tapi sebelumnya kita sudah sepakat setelah selesai Umrah kita ketemu di bawah jam dinding besar di depan masjidil Haram. Nah, ketika putaran ke empat saya hanya bersama bu Nana saja, yang lainnya sudah tidak kelihatan olehku. Situasi saat itu tidak terlalu padat, jadi aku tawarkan bu Nana untuk mencium Hajar Aswad, semoga saja kita bisa menciumnya dengan mudah. Setelah berusaha maju ke depan Ka’bah akhirnya tanganku dan bu Nana bisa memegang Ka’bah dengan leluasa sambil menunggu deretan antrian untuk mencium Hajar Aswad. Sekitar 15 menit kami mengantri, akhirnya kesempatan mencium Hajar Aswad benar-benar terwujud di depan mata. Ku suruh bu Nana untuk mencium terlebih dahulu kemudian baru giliranku. Setelah sekita 20 detik aku menciumnya sambil berdo’a, akupun puas dan mundur untuk keluar dari desakan para jamaah haji yang sedang saling mendorong untuk berebut mencium Hajar Aswad. Belum sempat mundur dua langkah tiba-tiba tubuhku terdorong kesamping dan dengan tidak sengaja pakain ihromku yang menutup bagian atasku tertarik dan terlepas dari tubuhku hingga terbang jauh dan tidak sempat untuk ku ambil kembali sangking banyaknya orang. Dengan terpaksa akhirnya aku melanjutkan putaran tawaf dan sa’i dengan telanjang dada tapi tetap menutup aurot. Hampir setiap orang melihatiku keanehan, bahkan sempat ditanya oleh petugas haji setempat, dan aku jawab sesuai kejadian yang kami alami. Malu sih, tapi gimana lagi. He he he.

4. Pengalaman temanku yang menyedihkan ketika thawaf Qudum. Karena baru pertama kalinya tawaf, maka dia belum tahu situasi di sekitar Ka’bah. Di pahanya terikat tas kecil yang isinya uang, kartu maktab dan tiket kapal laut untu pulang nanti. Saat dia thawaf saking enaknya berdesak-desakkan diapun tak sadar, hingga sampai akhir putaran thawaf baru ia sadar melihat tas yang di pahanya tiba-tiba tidak ada lagi. Padahal tas itu terikat dengan kencang bahkan melingkar hingga perut, jadi tidak mungkin kalo tas itu terjatuh gara-gara desak-desakkan, akan tetapi pasti ada tangan-tangan jahil yang sengaja mencopet tas kecil temanku itu. Dengan tegar hati temanku menyelesaikan thawaf dan sa’i nya walaupun dengan perasaan sedih.

Kesimpulan

Cerita no. 1 dan 2, ternyata apa yang dikatakan oleh orang-orang mengenai cerita-cerita aneh dari orang-orang yang menuanikan ibadah haji, itu benar-benar terjadi bahkan dapat kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri. Perbuatan-perbuatan yang tidak di ridloi Allah waktu sebelum haji, itu akibatnya bisa Allah perlihatkan saat ibadah haji.

Kesimpulan cerita no. 4 adalah tidak semua orang yang beribadah haji di Mekkah murni untuk ibadah haji, tapi ternyata banyak orang-orang yang dengan sengaja memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil, mencopet bahkan merampok barang orang lain. Jadi, kita harus tetap waspada walaupun berada di Masjidil Haram. Sebab Syetan selalu menggoda manusia di manapun berada tidak melihat tempat dan keadaan.

Setelah batas waktu beribadah haji di Mekkah selesai, tibalah saatnya kami menuju ke madinah untuk berziarah mengunjungi raudlah syarifahnya baginda Nabi Muhammad saw, makhluk terhebat dan termulia di jagad raya ini.

Saya pun berpamitan kepada jemaah haji dari KBIH Pekalongan, dan mendahului mereka untuk segera berangkat ke Madinah dengan teman-teman mahasiswa Mesir lainnya. Maka kamipun hari itu berpisah dan berharap bisa bertemu lagi di Madinah.


Perjalanan Hajiku di Kota Madinah

Setelah sampai di Madinah kami menyewa losmen sederhana sebagai tempat tinggal kami dengan biaya sendiri. Hari pertama di Madinah, akupun langsung bergegas menunaikan sholat jamaa’ah di Masjid Nabawi, dan setelah itu saat yang ku tunggu-tunggu yakni menziarahi raudlahnya sayidina Rasulullah saw. Ternyata tangis bahagia pun tak bisa terbendung, cucuran air mata yang datang dari hati terdalam ini, rasanya ingin mewakili kerinduan yang telah bertahun-tahun terpendam. Akhirnya hari itu bisa kutumpahkan kerinduan itu hingga airmata mengering. Sungguh suatu kehormatan mendapatkan undangan untuk menziarahi-mu wahai kekasih hati tercinta sayidina Muhammmad junjungan seluruh makhluk Allah.

Saya tinggal di Madinah kurang lebih 5 hari, dan di hari ke 3 aku pun berjumpa dengan ke dua budheku tercinta beserta rombongan KBIH dari Pekalongan. Setelah sehari semalam kedua budheku ingin berziarah ke raudlahnya rasulullah tapi tidak ada yang mengantarnya, akhirnya mereka berdua dan ibu-ibu sekitar 5 orang punya inisiatif sendiri menyuruhku untuk menjadi guide ziarah mereka. Aku pun sangat senang bisa menemani budhe-budheku tercinta lagi.

Di sinilah aku mendapatkan pengalaman berharga yang tidak akan bisa terlupakan seumur hidupku atas perlakuan orang-orang wahhabi yang sangat dangkal cara berpikirnya. Setelah aku mengantarkan budhe dan ibu-ibu jemaah haji persis di samping pintu keluar dari raudlah, saya segera memimpin doa sedangkan ibu-ibu mengamininya. Di saat kami khusyu’ melantunkan do’a, tiba-tiba seorang petugas penjaga masjid mendatangi kami dengan berbahasa arab yang artinya:” Wahai saudaraku, haram berdo’a menghadap raudloh rasulullah. Berdo’alah menghadap kiblat”. Akupun mencoba tidak menghiraukan ucapannya. Dan akhirnya dia mengulangi ucapannya hingga 3 kali, dan akupun akhirnya menghentikan do’aku dan menjawabi pertanyaan-pertanyaan orang ini. Aku pun menjawabnya dengan jawaban-jawaban yang ringan:” Wahai saudaraku, kenapa kita tidak boleh berdo’a menghadap raudlah rasulullah?, Bukankah Allah itu maha mendengar atas segala penjuru arah, tidah hanya arah kiblat saja.” Akhirnya terjadilah perdebatan yang cukup seru, dan diapun merasa tak bisa menjawab atas bantahan-bantahanku, di panggilllah temannya untuk berdebat denganku, dan temannyapun kuwalahn menghadapi jawaban-jawanku atas pernyataan-pernyataan bodohnya orang-orang wahhabi yang sangat lucu jauh menyimpang dari agama. Karena dia merasa terpojokkan akhirnya malah aku yang dianggap telah menghinanya, dan di panggillah seorang polisi untuk menangkapku. Kemudian aku pun di periksa, dan di bawa ke tempat khusus yang di dalamnya ada sekitar 10 orang yang seprofesi dia sebagai polisi adab. Langsung aku di hujani berbagai macam pertanyaan yang menyangkut akidah, dengan mudah satu persatu aku jawab degan santai, tapi karena mereka banyak jadi sebelum aku selesai menjelaskan langsung di potong oleh temannya dan selama hampir satu jam aku di keroyok. Bagiku ini perdebatan yang sangat tidak fair, masak 1 orang di keroyok 10 orang. Jadi mau gak mau akupun akhirnya harus mengalah demi kebaikanku sendiri. Sebab kartu maktab dan photo copy pasporku ditahan mereka. Itu sama dengan menyanderaku dengan paksa. Bahkan akupun diancam akan diadukan ke pengadilan atas dalih penghinaan, yang minimal hukumannya penjara bawah tanah. Mentalkupun melemah setelah mendengar ancaman-ancaman seperti itu. Sebenarnya justru merekalah yang telah menghina rasulullah yang dianggap telah menjadikan syirik orang-orang yang menziarahinya. Sungguh itu su’ul adab terhadap rasulullah.

Akhirnya dari pada aku melayani debat dengan orang-orang yang tidak punya rasa cinta kepada rasulullah, lebih baik aku mengalah untuk menang. Akupun akhirnya diam tidak berkata sepatah katapun kecuali kata iya. Setelah satu setengah jam aku di sandera di tempat itu, akhirnya aku dibebaskan. Dan akupun setelah peristiwa itu baru tahu, ternyata memang benar kedangkalan cara berpikir seperti merekalah yang menghancukan Islam dari dalam. Sehingga dikit demi sedikit menggrogoti akidah umat muslim yang awam dengan mudah, untuk menjauh dari cinta kepada rasulullah dan para wali-wali Allah.

Di hari berikutnya, justru Allah mempertemukanku dengan orang saleh dari Sudan.Umurnya sudah di atas 50 tahun. Beliau dengan kerendahan hatinya menghampiriku dan mengajak berbincang-bincang masalah agama dengan berbahasa Arab. Orang itu sungguh sangat mencintai baginda rasulullah, dan ahli baitnya ( para wali Allah). Beliau banyak menanyakan hal-hal penting kepadaku, dan Al-hamdulillah beliau sungguh sangat takjub dengan jawaban-jawaban yang aku lontarkan. Dan itu semua merupakan ilmu-ilmu penting yang yang pernah aku dapatkan karena belajar dengan seorang guru tercinta-ku di Mesir. Akupun merasa puas Allah mempertemukanku dengan orang tersebut. Semoga di kesempatan yang lain kita bisa di pertemukan lagi.

Pada hari ke 4 akupun bersiap-siap untuk mengurus pasporku di kantor imigrasi Madinah untuk segera pulang kembali ke negara Mesir tercinta. Lima hari di Madinah benar-benar aku puasin untuk beribadah dan berziarah ke raudlah rasulullah setiap harinya, dan tak lupa juga menziarahi Baqi’ (tempat dimakamkannya para sahabat rasulullah dan juga para syuhada’ perang fi sabilillah).

Tibalah hari akhirku menginjak tanah Madinah, akupun berpamitan kepada seluruh rombongan haji dari Pekalongan untuk segera kembali guna melanjutkan study mengais ilmu di bumi kinanah Mesir.

Al-hamdulillah, akhirnya aku dan seluruh mahasiswa jamaah haji dari Mesir, dengan transportasi kapal laut, tiba dengan selamat tanpa ada gangguan sekecil apapun. Tiada kata yang bisa ku ucapkan kecuali puji syukur atas anugerah yang telah Allah anugerahkan kepadaku dalam menunaikan ibadah haji yang mulia ini, sehingga bisa menikmati dan melihat tanda-tanda kebesaran-Nya didua tanah suci Mekkkah dan Madinah.

Untaian Kata Mutiara Cinta 2


Oleh: Gus Mied Baidlowi.
(Mahasiswa Ushuluddin Hadits al-Azhar Cairo).

Belajarlah mencintai dari cinta...
Sebab cinta adalah cinta...
Yang tidak akan pernah merasa benci setelah mencinta...
Takkan pernah berputus asa saat mencinta...
Dan matipun menjadi hidup sebab CINTA...

'Cinta' adalah anugerah penyakit terindah...
Karenanya mampu menyembuhkan segala penyakit dunia bermasalah...
Kita tak pernah memilih suatu penyakit...
Melainkan penyakitlah yg datang memilih kita...
Begitulah "CINTA"...
Ia datang memilih kita...
Bukan kita yang memilih CINTA...
'Cinta, ajarilah aku bercinta...!!!

Kelembutan 'cinta' usap jiwa pecinta dari setiap peluh...
Seka tetes-tetes kesedihan yang melahirkan keluh...
Lalu membawanya ke tempat teduh...
Jauh dari bising prahara dan nestapa angkara murka yang angkuh...
"Cinta menentramkan jiwa"...

Kelembutan "cinta" merubah seseorang menjadi dermawan...
Mewariskan sikap budiman...
Terasa aman dan nyaman....
Hingga ajal menjemput dengan penuh senyuman....
Owh, cinta suci seputih awan...

Cinta kasih bak sebuah prasasti...
Yang terbangun di tepi pantai prahara...
Satu hal yang membuatnya kokoh berdiri...
Ialah keteguhan hati tuk selalu "SETIA"...

Sikap bijak-mu...
Diam dan tenang-mu...
Tutur lembut bahasa-mu...
Meretakkan cermin ego-ku...
CINTA menyejukkan penglihatan-ku...
Karena kaulah cahaya mata-ku...

Cinta kasih manusia adalah karya indah Sang Pencipta...
Dimulakan di surga...
Dirasukkan dalam jiwa sidna Adam dan siti Hawa...
Lalu dianak-pianakkan ke setiap jiwa manusia...
Dengan kadar bentuk yang berbeda-beda...
Maha suci sang kuasa atas segala-galanya...

Bukanlah 'CINTA' yang membuat insan makin jauh dari Sang Pencipta...
Yang membuatnya tenggelam dalam samudera nafsu durjana...
Yang menjadikannya pemuja keelokan raga semata...
Hingga berakhir dengan duka dan nestapa...
Itulah hawa nafsu manusia...

'Cinta' adalah kasih sayang dan pengharapan keridloan yang tersaji...
Seolah kekasih akan meninggal diesok hari...
Tak ada insan yang mampu lakukan ini...
Sebelum hati kecilnya menjadi suci...
Bersih dari kerak-kerak keangkuhan hati.....
"Cinta suci insan sejati".

Cinta merupakan percikan Rahmat dari Sang Maha Pencipta...
Dianugerahkannya pada setiap insan yang bening hatinya...
Layaknya sebuah telaga...
Hingga hati sang kekasih mampu bercermin diatasnya.
"Maha Suci Cinta Sejati".

'Cinta' bukanlah barang yang terlihat...
Melainkan irama perasaan kalbu yang mengalun memikat...
Tersimpan rapi di ruang hati tertutup rapat...
Hanya kekasih sejati yang dapat mengetahuinya dengan tepat...

'Cinta' bukanlah paksaan...
Ia laksana benih tanaman...
Hanya tumbuh pada tanah pilihan...
Maka taburkanlah benih cinta-mu di ladang kesucian...
Siramilah dengan air kasih sayang...
Agar tumbuh dan mekar dengan kemuliyaan...

TIdaklah 'Cinta' akan teryakinkan...
Bila hanya diungkapkan dengan lisan...
Sebab cinta adalah bunga-bunga perasaan...
Yang hanya mampu dijelaskan dengan sikap dan perbuatan...

Apapun bentuk suka duka yang datang menghampiri...
'Cinta' adalah saling berbagi...
Meski disemayamkan dalam dua raga dan jati diri...
Sepasang kekasih hanya punya satu hati...

‎Biarpun panas matahari begitu menyengat...
Gulita malam yang begitu gelap...
Takkan ku biarkan bayangan diri-mu hilang walau sekejap...
"Muroqobah cinta".

Sinar Matahari dan Rembulan...
Bak kasih sayang kedua orangtua yang budiman...
Saling bergantian diwaktu siang dan malam...
Cinta-nya kepada sang anak sepanjang zaman...
Tak peduli berbagai rintangan halangan yang menghadang...
Sinarnya kan selalu terang...
Hingga ajal melayang.....

Semuanya terasa begithu abstrak...
Lidah-ku terdiam seakan tak mampu tergerak...
Padahal ku ingin sekali berteriak...
Hanya denyut jantung yang terdengar berdetak...
Sedangkan hatiku begitu kaget tersentak-sentak...
Owh, pujaan hati...
Cinta-mu menggetarkan hati...
Kan ku jaga hingga ajal menjemput nanti...



NB: Kata-kata mutiara ini telah dipublikasikan penulis di facebooknya gus_mied@yahoo.com /
memed_nur@yahoo.com

Berpantun Romantis ala Gus Mied


Oleh: Gus Mied Baidlowi
(Mahasiswa Al-Azhar As-Syarif Cairo Egypt)

#Walaupun indah pemandangan ibu kota
Tetap lebih indah pemandangan Pekalongan citi
Walaupun adinda terasa jauh di mata
Tapi terasa sangat dekat di hati...

#Putih mengkilap warna "Mukena"
Coklat nan lezat rasa kue bolu
Biarpun adinda ada di sana
Tapi kehadiran-mu kurasakan selalu...

#Dinda cantik tinggi semampai
Pipi memerah rambut mengurai
Santun bersahaja lembut gemulai
Kakanda melihat terasa terkulai

#Kerlap-kerlip cahaya bintang seribu
Indah menawan menghiasi malam
Sungguh aku sedang merindu
Merindu-mu di hati yang paling dalam...

#Dari mana asalnya Pretty Zhinta
Dari India Bombay Citi
Dari mana asalnya cinta
Dari mata turun ke hati...

#Di Senayan ada konser Syahrini
Di Grogolan konser Boomerang
Di dalam hidup-ku ini
Cuma ada adinda seorang...

#Sungguh susah memanjat pohon Randu
Pohon dipanjat kaki terjepit
Sungguh susah menahan rindu
Rindu ditahan jadi penyakit...

#Ke Cimanggis membeli kopiah
Kopiah indah bermerk "Melati"
Begitu banyak gadis yang singgah
Hanya adinda yang memikat hati...

#Jalan-jalan ke kota Ciamis
Tak sengaja bertemu bang Abdul Aziz
Biarpun diri ini mati diujung keris
Asalkan dapat adinda yang maniz...

#Naik motor merknya Honda
Pergi ziarah kerumah Ang Opi
Bila cinta tlah mekar di dada
Siang terkenang malam pun termimpi...

#Untuk menjadi seorang jawara
Harus bertapa di dalam gua
Kalau cinta kukuh di dalam jiwa
Biar melayang jauh kan kembali jua...

#Anak unta siapa yg punya
Menangis iba kehilangan ibu
Bila cinta sudah menyapa
Rindu mulai membara di kalbu...

#Cinta tak memandang bulu
Cinta juga tak mengenal waktu
Rasakan cinta dihatimu
Betapa indah mengikis kalbu...

#Bawa peti dari Malaka
Berisi buah Simalakama
Kalau hati sudahlah suka
Semua keadaan terasa indah semua...

#Rindu dendam berkeluh kesah
Seolah sembilu menusuk kalbu
Rinduku dalam hatiku resah
Terasa pilu tidak bertemu...

Pantun-pantun ini telah di publikasikan di status-status facebooknya Gus Mied.
memed_nur@yahoo.com

Bid’ah, Senjata Pamungkas Kaum Fundamentalis

Oleh: Gus Mied Baidlowi
(Mahasiswa Fak. Hadits Ushuluddin Al-Azhar Cairo Mesir).

Dunia fana yang semakin tua umurnya, semakin terasa tua pula untuk dapat merasakan nilai-nilai cinta kasihnya. Sebagaimana cinta kasih yang pernah tertuang di masa baginda rasulullah yang mulia, yang senantiasa terabadikan dalam sejarah Islam seantero dunia. Itu semua disebabkan karena munculnya kelompok orang yang notabenenya mengaku sebagai pengikut rasulullah, tapi pada hakikatnya justru mereka sendiri yang jauh dan menyimpang dari akhlak mulia nabi dan nilai-nilai yang diajarkannya. Kanjeng rasul dalam setiap dakwahnya selalu mengedepankan sikap rahmah dan cinta kasih terhadap setiap manusia, baik dari kaum muslim maupun non muslim, sehingga Islam dengan pesat menyebar dipelbagai pelosok negeri saat itu, bahkan orang-orang yang pada awalnya menentang keras Islam tapi dengan sebab akhlak mulia sang baginda, mereka berbondong-bondong masuk Islam dengan rasa bangga. Berbeda dengan kelompok fundamentalis yang dalam setiap dakwahnya jauh dari mencerminkan akhlak baginda nabi, bahkan malah menjauhkan kaum muslimin dari ajaran Islam yang sebenarnya, bahkan tak heran mereka menyesat-sesatkan sesama kaum muslimin. Padahal untuk berdakwah mengislamkan satu orang kafir saja amat sangat susah, tapi dengan mudahnya mereka malah mengafir-kafirkan orang Islam yang tak bersalah. Apa kata dunia?

Sedih dan pilu rasanya, ketika melihat sekelompok golongan manusia yang dengan lantang berkata: “Kamilah sang pengamal al-Qur’an dan as-Sunnah”. Tapi pada kenyataannya merekalah yang menodai al-Qur’an dan as-Sunnah, membuat luka dan catatatan merah di hati orang-orang Islam yang lemah. Senjata pamungkas yang selalu di gembor-gemborkan ketika melihat perbedaan orang lain yang tidak sepaham, serta merta dari mulut mereka bak menghunuskan pedang yang sangat tajam yang akan melukai orang di sekelilingnya, dengan lantang mereka berkata: “Itu adalah perbuatan bid’ah, yang tidak ada asal-muasalnya”. Tak heran jika orang-orang Islam yang lemah imannya, takut dan tanpa berpikir panjang ikut mereka, karena mereka bak tuhan yang mengetahui segalanya, sang pemilik surga dan neraka, sehingga dengan seenaknya menghukumi orang lain sebagai pelaku bid’ah, bahkan syirik dan kafir. Namun lucunya ketika ditanya apa definisi dari bid’ah, syirik dan kafir? Mereka sendiri tidak benar-benar paham apa definisi, maksud dan tujuannya. So, sangat memalukan….!!!

Bid’ah dan Macam-Macamnya Menurut Kaum Fundamentalis

Sering kali kita mendengar para khatib masjid saat berkhutbah, dengan lantangnya mereka membacakan sebuah perkataan yang notabenenya terkenal dengan hadits rasulullah:

Iyyakum muhdatsatil umur, fa inna kulla muhdatsatil umur bid’atun, wa kullu bid’atin dlolalatun, wa kullu dlolalatin fi al-nar.
Yang artinya: “Jauhilah kamu sekalian perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya perkara-perkara baru itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan maka tempatnya adalah neraka”.

Di dalam hadits tersebut disebutkan semua yang baru adalah bid’ah, dan setiap yang bid’ah adalah sesat dan semua yang sesat maka tempatnya adalah neraka. Tapi pada prakteknya berbeda, mereka sendiri membagi bid’ah menjadi dua:
a. Bid’ah di dalam ibadah atau sering disebut dengan bid’ah secara syar’i (syari’at)
b. Bid’ah di luar ibadah (adat) atau sering di sebut bid’ah secara lughawi (bahasa).

Nah, dari sini muncul pertanyaan, kenapa mereka membagi bid’ah menjadi dua?
Padahal hadits di atas menyebutkan secara keseluruhan, tanpa membaginya. Bahkan penulis adalah seorang mahasiswa jurusan hadits, dan telah mencari referensi buku-buku literatur hadits, namun tidak ada satupun hadits yang menjelaskan tentang pembagian bid’ah menurut versi mereka. Menurut penulis pembagian seperti itu adalah rekayasa mereka saja, supaya dengan mudah bisa menghukumi orang lain yang berbeda pendapat dan tidak sepaham dengan mereka sebagai pelaku bid’ah yang sesat, sedangkan bid’ah-bid’ah yang mereka lakukan adalah tidak termasuk dari bid’ah yang sesat.

Setelah mereka membagi bid’ah menjadi dua, selanjutnya mereka menghukuminya. Bagi mereka bid’ah di luar ibadah (adat) atau yang sering di sebut bid’ah secara lughawi hukumnya boleh, sedangkan bid’ah di dalam ibadah atau yang sering di sebut bid’ah secara syar’i hukumnya haram.

Pernah suatu ketika teman penulis di bilang bid’ah gara-gara dia berdzikir dan membaca shalawat menggunakan tasbih. Karena bagi mereka tasbih adalah bid’ah, hal baru yang tidak ada di zaman rasulullah. Kalau mereka dengan mudahnya mengklaim tasbih itu sebagai sebuah bid’ah yang sesat, penulis ingin mengajak para pembaca untuk melihat masjid-masjid yang mereka gunakan untuk ibadah sholat setiap harinya. Ternyata masjid-masjid mereka sendiri telah tercampur oleh bid’ah-bid’ah dan hal-hal baru yang tidak ada di zaman rasulullah.

Beberapa contoh dari hal-hal baru itu, adalah;
a. Di zaman rasulullah, tempat pengimaman itu lurus tidak dibuat cekungan di depannya sama sekali, dan hal ini yang membuat bid’ah pertama kali adalah sayidina Umar bin Khattab ra, dengan tujuan agar suara seorang imam akan lebih keras terdengar oleh makmum saat sholat, karena suaranya akan memantul ke belakang..
b. Sebuah mimbar tinggi dan bertingkat yang di gunakan untuk berkhutbah, itupun dizaman rasulullah tidak ada, dan yang membuatnya pertama kali adalah sayidina Abu Bakar ra.
c. Bid’ah yang dilakukan oleh Sayyidina Umar ibn Khattab ketika mengumpulkan semua umat Islam untuk mendirikan shalat tarawih berjamaah. Tatkala Sayyidina Umar melihat orang-orang itu berkumpul untuk shalat tarawih berjamaah, dia berkata: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”.
d. Kitab suci al-Quran dizaman rasulullah tidak boleh di bukukan, tetapi apa yang terjadi ketika zaman sayidina Utsman bin ‘Affan? Al-Quran telah dibukukan dengan rapi bahkan ditulis lagi dan diperbanyak, untuk tujuan apa al-Qur’an di bukukan kalau tidak untuk mempermudah beribadah dengan membaca kalam suci Ilahi setiap harinya.
e. Sayyidina Utsman ibn Affan menambah adzan untuk hari Jumat menjadi dua kali. Imam Bukhari meriwatkan kisah tersebut dalam kitab Shahih-nya bahwa penambahan adzan tersebut karena umat Islam semakin banyak. Selain itu, Sayyidina Utsman juga memerintahkan untuk mengumandangkan iqamat di atas az-Zawra’, yaitu sebuah bangunan yang berada di pasar Madinah.
f. Kemudian setelah zaman semakin modern terciptalah microphone, sebuat alat pengeras suara yang di gunakan oleh para imam sholat di masjid-masjid dan tidak terkecuali juga masjid al-Haram dan masjid al-Nabawi, padahal ini adalah produk baru yang sama sekali tidak ada dizaman rasulullah.
g. “Doa adalah inti ibadah” sabda kanjeng rasul. Dan dizaman sekarang banyak orang yang berdo’a dengan menggunakan bahasanya sendiri-sendiri (non bahasa Arab). Lantas apakah ibadah do’a karangan sendiri dengan menggunakan bahasa selain Arab termasuk bid’ah yang sesat yang akan mengakibatkan sang pelakunya masuk neraka? Sungguh, kata bid’ah bak momok yang menyeramkan lebih seram dari sekedar hantu pocong ataupun kuntilanak gentayangan.

Dari contoh-contoh sederhana di atas, cukup sudah untuk mengoreksi kembali pemahaman dangkal tentang bid’ah. Kalau mereka konsisten memegang teguh pendirian dan pemahaman mereka, maka seharusnya contoh hal-hal baru yang telah penulis sebutkan seharusnya tidak mereka gunakan, karena mengingat itu semua adalah bid’ah dalam beribadah (syar’i) yang tidak pernah dilakukan oleh rasulullah. Tapi, pada kenyataannya mereka bak telah memakan air ludahnya sendiri, membid’ah-bid’ahkan dan menyesat-sesatkan orang lain tapi memperbolehkan untuk golongannya sendiri.

Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Sayyiah

Bagi penulis makna bid’ah bukan seperti yang mereka ungkapkan. Sebab Allah telah menciptakan manusia dengan berbeda-beda karakter dan sifatnya. Allah tidak menciptakan manusia berhati baik semua, ataupun berhati busuk semua. Melainkan ada manusia yang berhati baik dan ada pula yang berhati busuk. Dari orang yang berhati baik akan muncul bid’ah dan pembaharuan-pembaharuan yang baik. Dan dari orang-orang yang berhati busuk maka akan lahirlah bid’ah dan pembaharuan-pembaharuan yang buruk pula.
Sebagai contohnya adalah buah Anggur. Darinya akan bisa muncul dua macam bentuk bid’ah; baik (hasanah) dan buruk (sayyiah). Pada asalnya buah Anggur hukumnya adalah halal, tetapi apabila dibuat bid’ah (hal yang baru) dengan cara dipendam dalam waktu tertentu maka berubah menjadi khamr (minuman keras), sedangkan apabila buah Anggur itu di keringkan dengan cara dijemur dalam waktu tertentu maka akan berubah menjadi Kismis yang dalam bahasa arab dinamakan Zabib. Kedua bid’ah itu ketika ditimbang dengan dasar hukum agama Islam (al-Qur’an dan as-Sunnah), maka mempunyai hukum yang berbeda walaupun sama-sama bid’ah. Khamr (minuman keras) merupakan contoh bid’ah sayyiah yang hukumnya sudah jelas haram untuk diminum. Sedangkan Kismis adalah contoh bid’ah hasanah yang sama sekali tidak di haramkan oleh syari’at Islam, maka hukumnya halal untuk dimakan.
Sehingga rasulullah bersabda:

Man sanna fil Islami sunnatan hasanatan, falahu ajruha wa ajru man ‘amila biha, wa man sanna fil Islami sunnatan sayyiatan, fa ‘alaihi wizruha wa wizru man ‘amila biha ila yaumil qiyamah duna an yanqusho min auzarihim syai’.
Yang artinya: “Barang siapa membuat sunnah (tradisi baru) yang baik didalam Islam, maka baginya pahala dan pahala orang yang mengamalkannya, dan barang siapa yang membuat sunnah ( tradisi baru) yang jelek, maka baginya dosa dan dosa orang yang mengerjakannya sampai hari kiamat nanti tanpa berkurang sedikitpun dari dosa-dosa mereka”.

Dari sebuah bid’ah hasanahlah kemudian setelah berjalannya waktu yang cukup panjang maka istilah bid’ah berubah menjadi sebuah sunnah hasanah yang patut untuk tetap dilestarikan, dan dari bid’ah sayyiahlah asal-muasal sunnah sayyiah yang sesat dan menyesatkan. Jadi, tidak semua yang berbau baru dan modern itu adalah bid’ah yang sesat dan tidak ada sumbernya dalam dasar hukum Islam.
Sejak awal rasul sudah memberikan sebuah kaedah, yang berbunyi:

Man ahdatsa fi amrina hadza ma laisa minhu fahuwa roddun
Yang artinya :” Barang siapa membuat hal baru dalam perkara kami ini (Qur’an dan Hadits), yang bukan termasuk darinya maka tertolak”.

Hadits di atas ini sangat benar dan sesuai dengan apa yang telah di lakukan oleh para sahabat dan ulama’ salafus sholih. Akan tetapi yang terjadi adalah “nashshun shohihun wa fahmuhu khoti’un li nashshin shohihin”. Hadits di atas sering dipahami keliru oleh mereka kaum foundamentalis yang selalu bersifat tekstual tanpa melihat tanda-tanda dan makna yang tersirat di dalamnya. Sebab hadits di atas kalo kita teliti dengan jeli maka akan mengungkapkan hukum bid’ah dengan muhkam dan jelas. Tanda-tanda yang perlu dicermati adalah perbedaan makna lafadz fi dalam kalimah “fi amrina dan lafadz “min” dalam kalimat “minhu”. “Fi” dalam kalimat “fi amrinaadalah bentuk pembaharuan yang sama sekali tidak bersumber dari nilai-nilai yang telah di perintahkan oleh dasar hukum Islam, sedangkan “min” dalam kalimat "minhu" adalah bentuk pembaharuan yang berasal dari nilai-nilai yang telah diperintahkan oleh dasar hukum Islam. Sehingga hadits di atas mempunyai mafhum mukhalafah atau makna tersirat sebagai berikut :

Man ahdatsa fi amrina hadza ma huwa minhu fa laisa roddan yakni maqbulan
Yang artinya :”Barang siapa membuat hal baru di dalam perkara kami ini (Qur’an dan Hadits) yang bersumber darinya maka itu tidak tertolak alias diterima”.

Berangkat dari pemahaman cermat dan tepat dari hadits di atas, para sahabat dan ulama salafus shaleh membuat pembaharuan di dalam Islam, sebagaimana sayidina Umar bin khattab mengusulkan pembukuan al-Quran, dan al-Imam syafi’i merumuskan ilmu-ilmu baru dalam khazanah ke-Islam-an seperti ilmu Ushul Fiqih, Ilmu Fiqih, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits dan lain sebagainya. Sehingga beliau al-Imam al-Syafi’i dengan tegas membagi bid’ah menjadi dua; hasanah dan sayyiah. Bid’ah hasanah adalah sebuah pembaharuan yang tidak menyimpang dari dasar hukum Islam (Qur’an dan Sunnah), sedangkan bid’ah sayyiah adalah pembaharuan yang menyimpang dan melanggar ketentuan Qur’an dan Sunnah.

Mereka para sahabat dan para ulama’ sekaliber para imam madzhab, adalah orang-orang yang telah memahami al-Qur’an dan as-Sunnah dengan benar. Hanya para ulama’ gadungan yang sok pintarlah, yang dengan mudah membid’ah-bidahkan bahkan menyesat-seesatkan orang lain padahal pada hakikatnya mereka sendirilah yang sesat dan menyesatkan, karena tipu daya syetan yang membuat diri mereka sombong dan karena sebab kejahilan mereka merasa dirinya paling benar.

Sebenarnya Allah telah menjelaskan itu semua di dalam al-Quran, sebagaimana firman-Nya dalam surat an-Nisa’ ayat 83:
Law rodduhu ilar rasuli wa ila ulil amri minhum, la’alimahulladzina yastanbithunahu minhum.
Yang artinya: “Jikalau mereka mengembalikannya (segala permasalahan) kepada rasulullah dan ulil amri di antara mereka, maka tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya, akan dapat mengetahuinya (beristinbat) dari mereka (rasul dan ulil amri).

Istilah “ulil amri”, tidak selalu bermakna seorang penguasa atau pemerintah, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni setiap orang yang menguasai suatu permasalah atau suatu urusan, maka dia termasuk dari ulil amri. Dalam hal ini mereka para sahabat dan ulama’ sejati seperti imam-imam madzhab termasuk dari ulil amri.dalam urusan menggali dasar hukum agama Islam (Qur’an dan Hadits) dan menerapkannya sesuai dengan maslahat dan perkembangan zaman. Sehingga mereka tidak serta merta menghukumi segala sesuatu dengan seenak perutnya sendiri sebagaimana peringatan Allah dalam surat an-Nahl ayat 116:

Wa laa taqulu lima tasifu alsinatukumul kadziba hadza halalun wa hadza haramun litaftaru ‘alallahil kadziba, innalladzina yaftaruna ‘alallahil kadziba la yuflihun.
Yang artinya: “ Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang di sebut-sebut oleh lidahmu secara dusta; “ini halal, dan ini haram”, untuk membuat kebohongan publik kepada Allah. Sesungguhnya orang yang membuat kebohongan terhadap Allah tidak akan beruntung”.

Jika mereka orang-orang fundamentalis (kelompok Wahhabi dan konco-konconya) bersikukuh berpendapat bahwa semua bid’ah adalah sayyiah dan sesat, maka mereka bak layaknya menghukumi sesat para sahabat dan para ulama’ salafus shalih. Bagi penulis lebih baik mengikuti bid’ah-bid’ahnya para sahabat nabi dan ulama’ salafus shalih, dari pada harus mengikuti pemikiran dan bid’ah-bid’ah sesat kelompok wahhabi dan antek-anteknya. Penulis dan orang-orang yang melestarikan bid’ah-bid’ah hasanah para sahabat dan ulama’ salafus shalih rela dengan sepenuh hati jika harus masuk neraka bersama para sahabat dan para ulama’ sejati yang selalu dalam naungan ridlo dan inayah Allah. Dan bagi kalian kaum fundamentalis silahkan masuk ke dalam surga yang telah kalian iklankan setiap harinya bersama teman-teman kalian. Bagi kami inilah jalan kami, dan bagi kalian itulah jalan kalian….!!!!

Walaa haula walaa quwwata illa billah.

Antara Isbal dan KCB “Kelompok Celana Banjir”

Oleh: Gus Mied Baidlowi
(Mahasiswa Fak. Hadits Ushuluddin Al-Azhar Cairo Mesir).

KCB, sebuah karya perfileman yang sukses dan mendapatkan perhatian lebih dari jutaan penonton baik dalam maupun luar negeri. Bahkan konon filem itu mengabiskan dana sampai puluhan milyar rupiah. Sehingga tak heran jika judul filem karya novelis muda Habiburrohman el-Sairozi.Lc itu selalu teringat di benak para penontonnya.

Namun dari itu, ternyata KCB tidak hanya terkenal menjadi sebuah judul filem saja, bahkan menjadi julukan bagi segolongan orang yang pakaiannya terlihat rada sedikit tidak wajar, karena model celana yang umumnya panjang menutupi mata kaki, oleh mereka dipotong sampai kelihatan betisnya. Merekalah “Kelompok Celana Banjir“ yang disingkat menjadi KCB.

Di mata penulis, itu adalah sebuah fenomena yang aneh tapi nyata, sekelompok orang yg mengenakan celana bak orang kebanjiran, padahal saat itu tak ada petir apalagi hujan. Tapi ternyata keanehan itu sungguh nampak disebagian lingkungan masyarakat sekitar kita yang notabenenya adalah mempelajari ilmu agama Islam.
Benarkah Islam mengajarkan yang seperti itu? Mari kita kaji bersama-sama!

Di salah satu buku hadits ditemukan sebuah perkataan:

"Man asbala tsaubahu fi al-naar".
Yang artinya “ barang siapa yg berisbal maka masuk neraka“.

Dari hadits ini, para penganut KCB beramai-ramai memotong celana dan jubah mereka hingga atas mata kaki. Bahkan menganggap orang lain yang tidak sepaham, mereka katakana telah salah dan siap-siaplah untuk masuk neraka.
Benarkah hadits ini bermakna seperti ungkapan di atas? Jikalau benar, maka hampir setengah umat muslimin akan masuk neraka sedangkan surga hanya akan dihuni penganut KCB.

Isbal adalah sebuah istilah yg berarti memanjangkan pakaian hingga melebihi mata kaki.
Dalam hadits di atas, perintahnya untuk umum tanpa membedakan jenis kelamin kaum lelaki ataupun perempuan. Tapi kenapa pada prakteknya hanya kaum laki-laki saja yang mempraktekkannya? Sedangkan kaum perempuan tidak? Dari sini timbul tanda tanya besar.

Mengenai pertanyaan di atas, penulis pernah mendengar jawaban dari seorang penganut KCB yang berdalih karena atas dasar aurat. Jikalau seperti itu, rasanya kurang tepat, sebab bukankah di dalam suatu riwayat hadits disebutkan nafsu syahwat perempuan itu lebih besar dari pada laki-laki, diibaratkan sembilan banding satu. Jadi, apakah hanya kaum laki-laki saja yang bersyahwat ketika melihat betis kaum perempuan? Sedangkan kaum perempuan tidak akan bersyahwat ketika melihat betisnya kaum laki-laki? Alasan ini menurut penulis harus di kaji ulang, bahkan jika berdasarkan riwayat hadits itu berarti tidak tepat.

Setelah mendengar alasan yang pertama tadi, penulis pernah menanyakan kepada salah seorang penganut KCB, tentang model pakaiannya yang serba pendek yang dalam bahasa jawanya “cingkrang”? Dan jawabannya: ”Demi menjaga pakaian dari najis yang berserakan di jalan-jalan”. Oh, begitu toh. Tapi sementara itu penulis melihat disampingnya sosok perempuan yang bercadar mengenakan pakaian hitam yang serba panjang, bahkan menyentuh tanah. Perempuan itu adalah istrinya. Lalu penulis terbesit pertanyaan di hatinya apakah suaminya tidak berfikir atas alasan yang dikemukakannya tadi, sedangkan istrinya sendiri malah mengenakan pakaian yang bersebrangan dengan jawabanya. Apakah hanya kaum laki-laki saja yang harus menjaga pakaiannya dari najis sedangkan kaum perempuan tidak? Oh, no!!!
Jadi, alasan yang kedua inipun terkesan lucu dan jauh dari yang diharapkan.

Di sini, penulis hanya ingin menyampaikan pendapatnya menurut substansi yang diajarkan oleh agama Islam yang selalu mengedepankan esensi dari pada atribut-atribut zahir yang sering menipu. Sebagaimana dipertegas oleh Rasulullah dalam sabdanya:

“Innallaha laa yandluru ila suwarikum wala ajsamikum, walakin yandluru ila qulubikum”.
Yang artinya “Bahwasanya Allah tidak melihat bentuk pakaian dan tubuh kalian, melainkan Allah senantiasa melihat hati kalian.

Lalu di perkuat lagi dengan sabda Rasulullah yang lain:

“Inna fil jasadi mudlghotun, idza soluhat soluhat jasadu kulluhu, wa idza fasadat, fasadat jasadu kulluhhu, alaa wahiya al-qolbu”.
Yang artinya: “ Sesungguhnya di dalam jasad itu ada segumpal darah, jika ia itu baik maka baiklah semuanya, dan jikalau ia rusak, maka rusaklah semuanya, apakah itu? dialah hati”.

Apalah artinya sebuah atribut pakaian yang melekat di tubuh, kalau ternyata hatinya lebih busuk dari orang gila yang tidak berpakaian sama sekali . Dan Islam itu, selalu melihat esensi dari setiap amal ibadah manusia bukan berdasarkan atribut semata.

Apakah gara-gara sebuah pakaian menjadi penghalang seseorang masuk surga? Sedangkan di sana ada seekor hewan yang dijanjikan Allah memasuki surga-Nya, padahal di dunia tidak pernah berpakaian sama sekali. Dialah Qitmir, anjingnya Ashabu al-Kahfi. Lantas, sebab-sebab apakah yang menjadikan seseorang terhalang untuk masuk surga? Baginda Rasulullah bersabda:

“La yadkhulu al-jannata man kana fi qolbihi mitsqola dzarrotin min kibrin”.
Yang artinya: “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat secuil sifat sombong”.
Itulah, sebab yang akan menghalang-menghalangi seseorang masuk dalam surga-Nya, bukan disebabkan atribut pakaian semata.

Setelah kita membahas hadits-hadits di atas, penulis ingin mengungkap hadits yang berkaitan tentang isbal secara lengkap. Sungguh benar Rasulullah pernah melarang isbal, akan tetapi isbal yang di larang bukan sembarang isbal, melainkan isbal yang disertai dengan sifat congkak dan sombong sebagaimana sabdanya:

“Man jarra tsaubahu khuyala’a fi al-nar”
Yang artinya: “Barang siapa yang memanjangkan pakaiannya dengan bersombong maka nerakalah tempatnya”.

Dari hadits ini, maka terjawablah sudah permaslahan yang menjadi problematika ini.di Sebab Allah tidak mungkin memasukkan hamba-Nya gara-gara masalah pakaian sebagaimana penjelasan hadits sebelumnya, yang menjadi masalahnya adalah sifat khuyala’ (sifat congkak dan sombong) tersebut.

Diperkuat lagi dengan sebuah riwayat yang menjelaskan asbabul wurudnya hadits di atas.
Saat itu, Rasulullah melihat kelakuan raja-raja Yaman yang pakaiannya serba panjang menjulur ke lantai seraya berbangga diri dan sombong merasa dirinya paling hebat, maka Rasulullah menyabdakan hadits itu. Baginda Nabi bukan melarang isbalnya melainkan sifat congkak dan sombong yang bersemayam di hati seseorang, sebagaimana halnya pertanyaan sayidina Abu Bakar perihal dirinya yang mengenakan baju lebar dan berisbal kepada baginda Nabi, “Apakah saya termasuk seperti mereka ya rasulallah”? Rasulullah menjawab: “Tidak, kamu tidak seperti mereka”. Sebab sayidina Abu Bakar adalah orang hatinya bersih dari sifat-sifat tercela tersebut.

Inilah salah satu problematika kaum muslimin yang seringkali membuat perpecahan dan bahkan saling menuduh salah satu sama lainnya, yang disebabkan karena: “Nashshun shohih wa fahmuhu khoti’un li nashshin shohih”. Yang artinya: "Teksnya benar, tapi pemahaman terhadap teksnya yang salah". Sehingga bukan solusi yang didapat, akan tetapi malah terperosok ke dalam jurang hitam yang semakin dalam. Maka dari itu waspadalah, jangan tertipu oleh kemasan semata, bisa jadi botol yang bertuliskan susu ternyata isinya minuman keras, dan sebaliknya botol yang bertuliskan minuman keras ternyata isinya air mineral.


Pesan penulis:
Wahai penganut KCB yang budiman, jangan sampai pemahaman yang anda anut itu malah menjerumuskan anda sendiri ke dalam neraka-Nya. Sebab sifat merasa anda yang paling benar dan menganggap yang lainnya salah itu dalam kategori congkak dan sombong, yang nantinya akan bisa menjadi penghalang anda sendiri untuk masuk ke surga-Nya. Wal-‘Iyadlubillah.


Wala haula walaa quwwata illa billah.

Bolehkah Kita Menyerupai Kaum Non-Muslim?

Oleh: Gus Mied Baidlowi
(Mahasiswa Fak. Hadits Ushuluddin Al-Azhar Cairo Mesir)

Pada dasarnya setiap manusia akan mempunyai tabiat meniru apa yang dianggap baik dan tidak ketinggalan zaman. Pakaian merupakan hiasan tubuh manusia yang modenya akan selalu berubah setiap zaman. Mode pakaian yang sudah ketinggalan zaman akan ditinggalkan dan mode pakaian masakinilah yang akan jadi trend.

Pada zaman sekarang ini peradaban negara-negara baratlah yang maju dan menguasai dunia, produk-produk dari desain teknologi mutahir yang ditemukan akan selalu menghiasi aktifitas interaksi manusia satu dengan yang lainnya. Mulai dari kebutuhan barang primer; seperti sandang, papan, dan makanan sampai kebutuhan sekunder, seperti alat transportasi; mulai dari sepeda ontel hingga pesawat, alat komunikasi; mulai dari secarik surat sampai telpon seluler. Dan kebutuhan manusia seperti itu akan mengalami pembaharuan disetiap zamannya, baik dari segi kualitas dan fasilitasnya.

Hampir semua alat-alat tersebut adalah hasil penemuan orang-orang barat yang notabenenya adalah non muslim. Masalah yang sampai sekarang menjadi pokok perbincangan seputar agama yang selalu menarik adalah sebuah pertanyaan yang berbunyi; apakah orang–orang Islam yang menyerupai atau meniru berpakaian dan menggunakan barang-barang tersebut, berarti telah termasuk dalam golongan mereka (kafir)? Mari kita bahas bersama-sama!

Sebenarnya, pokok masalah yang mendasari pertanyaan ini adalah hadits Rasulullah saw, yang berbunyi:

" من تشبه بقوم فهو منهم "

Yang artinya: “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari kaum itu”.

Sekarang yang jadi pembahasan dari hadits di atas adalah; jikalau makna hadits ini mutlak (semua aspek), maka hampir seluruh orang Islam telah masuk ke dalam golongan orang-orang non Islam alias kafir, karena hampir semua kebutuhan orang Islam menyerupai mereka, mulai dari berpakaian sampai penggunaan alat-alat canggih penemuan mereka. Maka, apa sih sebenarnya maksud dari hadits di atas?

Menyerupai atau meniru dalam berpakain dan penggunaan alat-alat canggih yang telah digunakan oleh orang-orang non muslim tidak akan menjadikan seorang muslim keluar dari agamanya alias murtad. Karena kanjeng Rasul telah bersabda:

" ان الله لا ينظر الي صوركم ولا اجسا مكم ولكن الله ينظر الي قلو بكم "

Yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk rupa ataupun bentuk badan kamu sekalian akan tetapi Allah melihat hati kamu sekalian”.

Kemudian Allah juga menegaskan didalam al-Quran :

" يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر "

Yang artinya;” Allah menghendaki kamu sekalian kemudahan dan tidak menghedaki kamu sekalian kesulitan” (QS: Al-Baqarah : 185).


an ini sesuai dengan hadits Rasulullah :

" يسروا ولا تعسروا “

Yang artinya: ”Permudahlah (urusan kamu sekalian) dan jangan kamu persulit”.

Jadi, sungguh jelas sekali bahwasanya Allah dan rasul-Nya menghendaki hamba-hamba-Nya untuk mempermudah segala urusannya, dan tidak memperdulikan bentuk pakaian, atau objek sarana baik untuk berinteraksi atau beribadah selama tidak melanggar ajaran agama Islam. Pada zaman Rasulullah saw, mode pakaian dan sarana transportasi belum sebagus dan secanggih sekarang. Untuk bepergian dari kota Mekkah ke kota Madinah saja, membutuhkan waktu berhari-hari, karena sarana transportasi yang ada saat itu sangat sederhana, yaitu berupa kuda dan unta. Terus, bagaimana dengan orang Islam yang hidup di zaman sekarang yang serba maju dan canggih ini? Apakah mereka harus bersusah payah seperti di zaman rasulullah dahulu, atau mereka harus meniru dan menyerupai orang-orang barat yang non Islam?

Jadi, yang dimaksud dari hadits di atas adalah; bukan meniru atau menyerupai dalam hal berpakaian dan penggunaan alat-alat modern yang telah mereka pakai sehari-hari, akan tetapi tasyabbuh (menyerupai) disitu adalah meniru atau menyerupai di dalam aqidah (keyakinan) terhadap sesuatu yang mereka sembah. Sebagaimana contoh keserupaan antara orang Islam dan orang Majusi yang sama-sama menggunakan api sebagai alat penerang dan alat bakar, akan tetapi di samping itu orang Majusi meyakini dan menyembahnya sebagai tuhan mereka, berbeda halnya dengan orang Islam.

Hemat penulis, menyerupai zahir suatu kaum tidak selalu merupakan indikasi terhadap adanya persamaan teologi dengan mereka yang ditiru. Tidak pula merupakan bentuk pengakuan akan superioritas orang yang ditiru, atau indikasi cinta kepada yang ditiru.

Adapun hadits di atas sesungguhnya memuji orang-orang jelata yang menyerupai atau meniru orang-orang shalih dalam keseharian mereka. Karena seorang penyair mengatakan:

" تشبهوا بالكرام إن لم تكونوا مثلهم # إن التشــبه بالكــرام فـلاح "

Yang artinya: Walau tak ada kesamaan, tirulah orang-orang mulia Walau sekedar tiruan, yakinlah anda akan jaya!.

Jadi, hadits di atas jangan ditafsirkan jauh-jauh. Karena orang yang berniat buruk tidak akan mendapat dosa sebelum melakukannya, sedangkan orang yang berniat baik sudah dapat pahala sebelum melakukannya. Begitu juga orang yang meniru orang kafir, tidak akan dinilai kafir jika tidak disertai niat (kesamaan keyakinan), sementara orang yang meniru orang shalih (walau zahirnya saja), insya'allah dapat juga gelar shalih.

Kesimpulannya; meniru dan menyerupai kaum non-muslim sangat diperbolehkan selama tidak menyerupai dalam aqidahnya, tidak membuka aurat dan tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.

Wala haula wala quwata illa billah.

Seni Musik dalam perspektif Islam

Oleh; Agus Khamid Baidlowi

(Personel D' Sukma Band &
Mahasiswa Al-Azhar Ushuludin Hadits)

Adalah musik, fan seni yang takkan pernah mati di telan waktu, akan tetapi dengan manfaat musik dapat menghidupkan waktu-waktu yang mati. Tak bisa di pungkiri Allah telah menciptakan manusia dengan berbagai macam bentuk, karakter, warna kulit, kemampuan, dan kecenderungan. Termasuk kecenderungan dalam hal seni musik. Bagi penggemar dunia seni musik, musik adalah sarana yang mampu memberikan banyak manfaat. Kelembutan dan kemerduan sebuah musik mampu membuat seseorang menemukan imajinasi yang hilang, mengusir kepenatan pikiran, menerbangkan impian dan angan-angan serta mampu mengembalikan memori indahnya suatu kenangan. Bahkan musik ternyata mampu menggugah selera dan melunakkan hati yang keras menuju petunjuk suci sang tuhan pemilik alam semesta ini.

Sejarah musik dalam Islam

Secara historis, telah maklum bahwasanya masyarakat Madinah pada abad ke-6 telah menggunakan rebana sebagai alat musik pengiring dalam acara penyambutaan atas kedatangan Baginda Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya yang hijrah dari Makkah. Masyarakat Madinah kala itu menyambut kedatangan Beliau dengan qasidah Thaala'al Badru yang diiringi dengan alat musik rebana, sebagai ungkapan rasa bahagia atas kehadiran seorang Rasul yang membawa ajaran mulia dan kabar gembira kedamaian bumi Madinah saat itu.

Kemudian alat musik rebana sempat digunakan sebagai sarana dakwah oleh para penyebar Islam. Dengan melantunkan syair-syair indah yang diiringi rebana, pesan-pesan mulia agama Islam mampu dikemas dan disajikan lewat sentuhan seni artistic musik Islami yang khas dan memukau hati. Hingga sekarang, seiring kemajuan zaman, maka berbagai alat musik baru yang lebih canggih pun muncul dan berkembang marak. Maka Islam sebagai agama yang penuh rahmah dan toleran, tidak akan pernah ketinggalan zaman, karena Islam adalah agama yang sholih likulli zaman wa makan. Substansi yang terkandung dalam ajaran Islam akan selalu mampu mengayomi perkembangan dan kemajuan zaman. Diantaranya didalam menyikapi seni musik yang akan selalu mewarnai kegiatan sehari-hari baik secara seremonial formal agama maupun hiburan.

Sejarah telah mencatat, bahwa Wali songo termasuk pelopor masuk dan tersebarnya agama Islam di Indonesia. Dengan sikap yang ramah dan penuh toleran, mereka mampu dengan mudah mengajak orang-orang yang pada saat itu mayoritas beragama Hindu menerima dan memeluk agama Islam. Dengan wasilah kesenian wayang dan musik gendingan yang diminati mayoritas masyarakat pada saat itu, mereka mampu mengubah substansi dari kebiasan yang jelek menjadi kebiasaan yang lebih bermakna dan membawa kebaikan. Begitu besar jasa Wali songo dan seni musik bagi negeri ini. sehingga sampai saat ini Indonesia dinobatkan menjadi negara terbesar pemeluk agama Islamnya di seluruh dunia ini.

Definisi dan hukum musik

Definisi musik tidak hanya terbatas meliputi alat-alat musik saja, akan tetapi lebih luas dan bahkan mencakup segala bentuk bunyi-bunyian dan suara. Penulis menukil pendapat seorang ahli bijak yang bergelar sahib al-samahah mendifinisikan musik dengan; segala jenis dan bentuk suara yang bisa dinikmati dan enak didengarkan oleh telinga. Dari sini penulis mengembangkan definisi tersebut hingga meliputi segala aspek, baik didalam hal ibadah maupun di luar ibadah, sebagai contoh ketika seseorang memiliki suara merdu dan fasih dalam membaca al-Qur'an, disana terdapat seni musik suara yang mampu menggugah hati, dan nikmat didengar oleh telinga sang pendengarnya sampe tak terasa menggoyangkan badan dan kepalanya disebabkan karena keindahan suara merdu tersebut. Begitupun alat-alat musik yang dengan indahnya di mainkan oleh ahlinya, maka akan mengeluarkan suara musik yang mampu membuat seseorang menemukan imajinasi yang hilang, mengusir kepenatan pikiran, menerbangkan impian dan angan-angan serta mampu mengembalikan memori indahnya suatu kenangan.

Maka, dari situ musik tak selamanya bisa di hukumi haram secara mutlak, ataupun halal secara mutlak, disana ada kesamaan hukum dengan buah anggur yang bisa menjadi halal ketika di makan dengan semestinya, begitupun bisa menjadi haram manakala anggur dibuat khamr (minuman keras) maka haram meminumnya. Begitupula sebuah musik, bilamana di gunakan untuk hal yang positif maka halal hukumnya, tapi bila musik digunakan sebagai penunjang untuk hal-hal negatif maka haram hukumnya.

-Imam al-Gazali dalam kitab Ihya’ Ulum Addin menukil sebuah kisah dari Mamsyad Addainuri pernah berkata: aku pernah mimpi bertemu Rasulullah SAW dan aku berkata, “wahai Rasulullah, apakah ada sesuatu yang engkau ingkari/tidak disetujui dari Sama’/nyanyian? Beliau bersabda, “saya tidak mengingkarinya, akan tetapi katakan kepada mereka agar nyanyian itu diawali dan diakhiri dengan bacaan al-Qur’an”.
-Syekh Habib Ali al-Jufri ketika ditanya pendapatnya mengenai hukum mendengarkan lagu yang diiringi musik, beliau berpendapat “tidak haram selamatidak mengandung kata-kata cabul yang dapat membangkitkan gairah seks”.
-Dalam Shahih Bukhari. Muslim dan Ibnu Majah terdapat sebuah hadits yang artinya kira-kira, (dari Sayyidatuna A’isyah r.a. ia berkata: Rasulullah s.a.w. pernah masuk dan menemukan bersamaku dua orang budak wanita sedang menyanyikan “lagu kemenangan suku Aws ketika mengalahkan suku Khazraj pada masa Jahiliyyah”. Maka Rasulullah berbaring di kasur. Kemudian masuklah Sayyiduna Abu Bakr r.a. dan beliau menghardikku seraya berkata, “seruling setan di rumah Rasulullah!?”. Maka Rasulullah s.a.w. berkata, “biarkan mereka!”. Ketika Sayyiduna Abu Bakr memperhatikan yang lain, Sayyidatuna A’isyah memberi isyarat agar kedua budak wanita itu keluar).
-Syekh Abul-Mawahib Attunisi dalam kitab Farahul-Asma’ Birukhashissama’ berkata, “sebagian sahabat dan tabiin pernah mendengarkan petikan gambus”.
-Annasa’I dan al-Hakim meriwayatkan dari Ãmir bin Sa’d berkata: aku menemui Qurzhah Bin Ka’b dan Abu Mas’ud al-Anshari pada acara perkawinan, dan aku melihat beberapa budak wanita sedang bernyanyi. Maka aku berkata: “wahai kedua sahabat Rasulullah, apakah penduduk Badar melakukan ini di tempat kalian?!”. Maka kedua-duanya berkata, “duduklah, kalau mau, dengarkan bersama kami, kalau tidak mau, maka pergilah, sesungguhnya kita telah diberikan keringanan untuk bermain “Lahwun” dalam acara pesta perkawinan.
-Abu Manshur al-Bagdadi Assyafi’I bercerita bahwa Abdullah Bin Ja’far tidak mencela ataupun membenci nyanyian. Bahkan ia sendiri mendengar nyanyian budak-budak wanitanya yang mengiringi petikan senar alat musiknya sendiri. Dan hal itu terjadi pada masa khalifah Sayyiduna Ali r.a.
-Al-'Allamah al-Adib Abu Umar al-Andalusi meriwayatkan bahwasanya Abdullah Bin Umar pernah menemui Ibnu Ja’far dan melihat seorang budak wanita sedang memegang alat musik “gambus”, kemudian ia berkata, “bagaimana menurutmu?”. Maka Ibnu Umar berkata, “tidak apa-apa”.
-Mawardi bercerita bahwa Mu’awiyah dan Amru Bin Ash pernah mendengar petikan gambus di rumah Ibnu Ja’far.
-Abu al-Abbas dan Abu al-Faraj al-Ashbahani bercerita bahwa Hassan Bin Tsabit pernah mendengar syiir karangannya sendiri sedang dilantunkan oleh Azzah Al-Maila’ menggunakan kecapi.
-Al-Adfawi bercerita bahwa Umar Bin Abdul-Aziz sebelum menjadi khalifah, sering mendengarkan nyanyian dari budak-budak wanitanya.

Penutup
Begitulah beberapa pendapat orang-orang saleh tentang seni musik, yang senantiasa mengilhami penulis antusias bermain musik dan berbagi ilmu ini, sekiranya dapat bermanfaat dan mampu meningkatkan motifasi kepada semua teman-teman di seantero dunia, untuk tidak perlu ragu-ragu lagi dalam mengembangkan bakat seni musiknya, Insya-Allah dengan niat dan tujuan yang baik maka Islam dengan substansi ajaran yang penuh rahmah dan toleran, telah membuka pintu selebar-lebarnya untuk mengayomi bakat-bakat seni setiap manusia. Selama hal itu tidak disalahgunakan untuk mencelakai diri sendiri ataupun orang lain, baik dalam kejelekan maksiat ataupun hal-hal negative lainnya, maka Islam tidak melarangnya. Maju dan jayalah kesenian musik masisir dan musik tanah air. Mudah-mudahan semua pecinta musik bisa menjadi seniman yang mampu menerapkan nilai-nilai luhur ajaran Islam yang telah diejawantahkan oleh wali songo kita, sehingga dapat membawa pencerahan masyarakat tanah nusantara Indonesia khususnya dan dunia umumnya.

Nb: Artikel ini telah dimuat di buletin "Makar" masisir Cairo, edisi bulan Juli 2009.

Untaian Kata Mutiara Cinta

Oleh: Gus Mied Baidlowi.
(Mahasiswa Ushuluddin Hadits al-Azhar Cairo).
# Kala wajah cantik-mu berkerudung…
langit menyaksikannya seakan mendung…
semua mata pun termenung…
syukur lisan terucap dan tertuntun…
beribu kalimat tasbih terlantun....
pada sang kuasa maha pelindung nan santun...

# Kala matahari tenggelam...
terang siang pun menghilang…
tergantikan oleh gelapnya malam…
diterangi pancaran sinar bulan ...
begitulah CINTA-nya malam pada kekasihnya siang sebagai satu pasangan…
selalu setia berbagi sinar terang dan keceriaan…

# Cinta adalah cinta…
terlahir secara nyata…
tanpa ingin berharap apa-apa…
dhohirnya senyuman dan batinnya kebahagiaan…
ungkapannya kasih sayang dan tindakannya akhlak mulia....

# Cinta adalah anugerah-Nya yg terindah…
cintamu menyejukkan hatimu…
kebencianmu senantiasa menjauhkanmu…
cinta suci, hanya ada pada manusia-manusia sejati….

# Kupu-kupu kertas…
terbanglah setinggi mimpi dan angan-anganku…
sampaikan salam dan do'aku di atas sana....
kabar baikmu kutunggu selalu....

# Cinta-mu karena dunia...
pokok dari setiap khilaf dan salah...
tapi cinta-mu karena sang pemilik dunia dan tuannya...
solusi bagi setiap masalah dan gundah...

# Kasih sayang tidak hanya di hari valentine saja...
tapi kasih sayang untuk sepanjang masa...
kapan dan di mana saja...

# Ketulusan tali kasih dua sejoli...
ibarat tangan dengan mata...
saat tangan terluka, mata menangis...
saat mata menangis, tangan menghapusnya...

# Ketulusan itu bak pohon yang berbuah...
walaupun kau lempari buahnya...
akan tetap diberikannya dg ikhlas...
apalagi jika kau mengambilnya dg sopan santun...
niscaya pohon itu akan menjatuhkan bebuahannya
untuk kau ambil sepuasnya...

# Cinta-Nya, adalah anugerah penyakit terindah...
karena penyakit itulah yg menyembuhkan segala penyakit dunia bermasalah...
Kita tak pernah memilih suatu penyakit...
tetapi penyakitlah yg datang memilih kita...
begitulah "CINTA-Nya" yg datang memilih kita...
bukan kita yg memilih CINTA-Nya...

# Semuanya berjalan sesuai dengan ketentuan Sang Maha Tahu...
begitupun cinta yang ada di dalam hatiku...
Semuanya akan mati...
tapi tidak dengan cinta sejati...

# Jiwa raga ini...
hanya ingin ku abdikan menjadi budak dan pencinta sejati-Mu.

# Kala cinta Majnun Laila berkata:
"Daku melangkah berjalan di depan rumah Laila…
kuciumi tembok-tembok rumah-nya…
tidaklah hati ini berbahagia karena menciumi tembok-nya…
tapi karena hati mencintai penghuni-nya. (Sya'ir cinta Majnun Laila).

# The alphabet starts with ABC…
numbers start with 123…
but love starts with you & me…

# Jauh di mata dekat dihati…
kau di sana aku di sini…
cinta ini tak selamanya harus memilliki...
karena cintaku hanya ingin memberi...
begitulah kisah ini tentang cinta sejati...

# Semuanya berjalan sesuai dengan ketentuan-Nya…
begitupun cinta yang ada di dalam hatiku…
semuanya akan musnah, kecuali cinta-ku.....


NB: Kata-kata mutiara ini telah dipublikasikan penulis di facebooknya gus_mied@yahoo.com /
memed_nur@yahoo.com

Popular Posts